Surabaya (beritajatim.com) – Tentu banyak juga di negeri kita yang akan mendengar dengan duka mendalam tentang meninggalnya istri bupati Rembang, Raden Mas Hario Djojo Adiningrat, lebih dikenal dengan nama Raden Adjeng Kartini.
Beliau, wanita bangsawan Jawa yang berbakat dan berjiwa mendalam, yang tujuan hidupnya adalah mengangkat derajat sesama bangsanya, terutama wanita Jawa, menuju kehidupan yang lebih baik dan bahagia, telah tiada.
Untuk tugas raksasa itu, beliau tidak pernah gentar, penuh keyakinan akan hasil akhirnya, beliau mengerjakannya dengan cinta, kesabaran, dan ketekunan yang besar; kekecewaan-kekecewaan yang juga tidak luput darinya tidak mampu membuatnya putus asa.
Kerajinan tangan Japara dihidupkan kembali oleh kedua saudarinya, didukung oleh orang tuanya, bupati terhormat dari wilayah ini dan istrinya.
Beliau sendiri menguasai bahasa Belanda sebaik hanya sedikit orang Belanda asli, meskipun tidak pernah berada di negeri kita (Belanda, red), beliau menulis dengan nama sendiri dan dengan nama samaran (tiga saudara) berbagai kontribusi yang sangat mendidik di pers Hindia dan Belanda, antara lain tahun lalu di „Eigen Haard”.
Beliau mengumpulkan para putri negeri di sekelilingnya di rumah kabupaten Japara yang tenang dan luas, memberikan pengajaran dan berusaha menanamkan pada mereka perasaan mulia yang sama dengan miliknya, menanamkan kesadaran, bahwa bahkan di zaman ini kaum bangsawan harus menjadi teladan, tetapi sekarang dalam perjuangan damai, untuk membawa rakyat Jawa menuju perkembangan, peradaban dan dengan demikian menuju kesejahteraan.
Salah satu keinginan terbesarnya adalah, suatu saat mengunjungi Tanah Air (Belanda, red); namun, keadaan tidak menghendaki hal ini.
Tahun lalu beliau menikah dengan bupati Rembang; bahkan di lingkungan barunya, beliau terus tanpa lelah bekerja untuk mencapai cita-cita luhurnya, dipandu oleh prinsip, bahwa wanita bangsawan Jawa tidak pernah dapat berbuat cukup untuk saudara-saudarinya yang kurang beruntung.
Suaminya selalu mendukungnya dengan nasihat dan tindakan, tetapi pekerjaan, yang menjadi dan akan menjadi berkat bagi ribuan orang, tiba-tiba terhenti. [but]
*) Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari berita yang terbit dalam koran berbahasa Belanda “De Maasbode” tanggal 27-09-1904 (10 hari setelah RA Kartini meninggal).






