Surabaya (beritajatim.com) — Penurunan jumlah pengunjung Kebun Binatang Surabaya (KBS) selama 2024 tidak hanya berdampak pada sisi keramaian. Imbas penurunan itu juga memperburuk kondisi keuangan lembaga konservasi satwa tertua di Indonesia tersebut.
Berdasarkan laporan resmi, sepanjang 2024 KBS hanya dikunjungi 1.994.909 orang, turun hampir 200 ribu dari tahun sebelumnya yang mencapai 2.198.875 pengunjung.
Anggota Panitia Khusus (Pansus) LKPJ Wali Kota Surabaya 2025, Imam Syafi’i, menilai penurunan itu bukan sekadar soal tren, tetapi menunjukkan ada masalah dalam pengelolaan dan strategi daya tarik wisata. Dia menggarisbawahi bahwa jumlah pengunjung seharusnya melonjak saat liburan, bukan justru menurun.
“Ini tanda-tanda tidak sehat. Beban naik drastis padahal pemasukan hampir sama,” ujar Imam saat rapat pembahasan LKPJ Wali Kota.
Sorotan tajam juga diarahkan pada kondisi keuangan KBS. Imam mengungkapkan bahwa meski pendapatan hanya turun tipis dari Rp50,8 miliar menjadi Rp50,6 miliar, namun lonjakan beban operasional dari Rp44,9 miliar menjadi Rp50,6 miliar telah menghapus seluruh margin keuntungan.
KBS yang semula mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp5,8 miliar pada 2023 kini justru merugi hingga Rp602 juta di tahun 2024.
Menurut Imam, ada kejanggalan yang perlu diusut lebih jauh. Ia menyayangkan bahwa di tengah angka pemasukan yang relatif stabil, pengeluaran justru tidak terkendali.
“Ini tanda-tanda tidak sehat. Beban naik drastis padahal pemasukan hampir sama,” tegas Imam, yang juga dikenal sebagai mantan jurnalis kawakan ini,
Imam juga mengaitkan merosotnya performa KBS dengan dihentikannya program unggulan seperti Night Zoo. Menurutnya, program tersebut dulunya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, terutama di masa libur dan akhir pekan.
“Night Zoo sudah tak diberlakukan sejak puasa kemarin. Sayang sekali, padahal itu bisa jadi nilai tambah,” ungkapnya.
Dia mendesak agar manajemen KBS tidak hanya mengevaluasi angka keuangan, tetapi juga segera melakukan perombakan dalam pendekatan atraksi dan pengelolaan publik. Menurutnya, penurunan ini bukan hanya mencerminkan ketidakmampuan menarik pengunjung, tetapi bisa berisiko terhadap kesejahteraan satwa.
“Kami khawatir nanti malah ngirit pakan. Jangan sampai kebutuhan dasar satwa dikorbankan. Engkok moro-moro malah masalah tambah banyak,” kritik Imam.
Sebagai salah satu ikon Kota Surabaya, Imam berharap Pemerintah Kota tidak tinggal diam. Dia meminta Wali Kota dan jajarannya untuk segera turun tangan agar KBS tidak semakin kehilangan pesonanya dan tetap menjadi kebanggaan warga Kota Pahlawan. [asg/but]






