“Belajar terus, kapan kerja?”
“Nanti keburu tua, lho!”
Malang (beritajatim.com) – Kalimat seperti ini bukan hal asing bagi mahasiswa S3, terutama yang memutuskan langsung lanjut studi tanpa jeda. Alif Nursukma Putra dan Riswanda Himawan, dua mahasiswa doktoral di Universitas Negeri Malang (UM), mengalami sendiri bagaimana pilihan mereka untuk terus belajar kerap membuat orang di sekitar bertanya-tanya.
Di saat banyak orang seusia mereka sudah mapan dalam pekerjaan atau bahkan membangun keluarga, mereka justru memilih jalur akademik yang lebih panjang.
Langsung S3, Memangnya Kenapa?
Alif, yang kini menempuh S3 di UM dengan beasiswa dari Kemendikbud, sejak awal memang ingin mengabdi di dunia perguruan tinggi. Baginya, jika nantinya S3 akan menjadi kebutuhan, kenapa harus menunggu?
“Mumpung ada waktu dan kesempatan, kenapa nggak langsung saja?” kata Alif saat diwawancarai beritajatim.com, beberapa waktu lalu.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Riswanda Himawan, mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa Indonesia UM. Keputusannya melanjutkan studi ke jenjang tertinggi bukan sekadar mengejar gelar, melainkan karena minat yang mendalam terhadap pendidikan bahasa Indonesia dan pengajaran.
“Saya semakin mantap untuk mengabdikan diri, khususnya di masyarakat,” kata Riswanda, yang juga aktif membimbing mahasiswa dalam berbagai kompetisi akademik serta meneliti di bidang pendidikan bahasa.
Namun, keputusan untuk terus belajar ini tidak selalu mudah. Sebab, Alif dan Riswanda sama-sama merasakan bahwa melanjutkan studi hingga jenjang doktoral bukan hanya tantangan akademik, tapi juga sosial.
“Banyak yang bilang nanti saya telat menikah karena mengejar karier,” kata Riswanda.
Selain itu, ada juga anggapan bahwa orang dengan pendidikan tinggi akan semakin sulit beradaptasi dengan masyarakat.
“Tapi saya tidak seperti itu. Saya masih bisa membaur dengan lingkungan sekitar,” tambahnya.
Alif pun mengalami hal serupa. Keputusan untuk lanjut S3 sempat membuat keluarganya khawatir. “Mereka takut saya keburu tua sebelum sempat kerja,” ujarnya sambil tertawa.
Namun, setelah berbagai diskusi dan pendekatan (mungkin juga sedikit rayuan), akhirnya keluarga bisa menerima keputusannya.
Salah satu hal terbaik dari kuliah doktoral, menurut Alif, adalah kesempatan bertemu para dosen ahli dan rekan-rekan yang sudah berpengalaman di universitas masing-masing. Dari situ, ia bisa belajar banyak tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Namun, ada satu tantangan yang cukup berat: publikasi ilmiah.
“Awalnya minder juga. Teman-teman kuliah saya artikelnya mudah sekali diterima di berbagai jurnal. Sementara saya masih harus banyak belajar,” kata Alif.
Riswanda juga merasakan bahwa tantangan akademik di tingkat S3 berbeda jauh dengan jenjang sebelumnya. Namun, justru dari sinilah ia semakin percaya diri.
“Ketika bertemu dengan mahasiswa, saya semakin tidak takut. Oh, saya ini mahasiswa doktoral, loh,” katanya sambil tertawa.
Baginya, S3 bukan sekadar menambah gelar, tapi juga membuka peluang lebih besar di dunia akademik.
Sejak masuk S3, baik Alif maupun Riswanda merasakan perubahan dalam diri mereka. Selain semakin percaya diri, mereka juga terbiasa berpikir lebih kritis sebelum mengambil keputusan.
“Saya jadi terbiasa mencari tahu konsep dan fakta dulu sebelum bertindak. Itu bikin saya lebih tenang dan yakin dalam menjalani berbagai pekerjaan,” ujar Alif.
Lalu, kapan mereka akan berhenti belajar? Jawabannya: mungkin tidak akan pernah. Sebab bagi mereka, belajar bukan sekadar soal gelar, tapi tentang bagaimana terus berkembang dan membuka peluang baru.
Dan kalau masih ada yang bertanya,
“Belajar terus, kapan kerja?” Mungkin jawaban terbaiknya adalah, “Kerja mah sambil belajar juga bisa, kan?” [dan/aje]






