Jember (beritajatim.com) – Pemerintahan Prabowo Subianto menjadikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu kebijakan untuk memperkuat daya beli masyarakat lewat program kesejahteraan yang menyasar kebutuhan dasar.
Pemerintah menyiapkapkan MBG untuk 82 juta penerima dari kalangan pelajar dan kelompok rentan hingga akhir 2025. Kebijakan ini untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika internasional.
Agus Trihartono, profesor diplomasi gastronomi dan pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyarankan agar pelaksanaan MBG tetap menekankan desentralisasi.
“Idenya jangan terpusat. Terpusat itu pengelolaan keuangannya saja. Tapi dari sisi manajemen didesentralisasi, Biarkan mereka (masyarakat) berkreasi sendiri. Tapi di situ harus ada supervisor-nya, yakni ahli gizi,” katanya, ditulis Senin (7/4/2025).
Konsep desentralisasi ini untuk memperkenalkan makanan lokal. “Ukurannya cukup ahli gizi,” kata lulusan doktoral Graduate School of International Relations (GSIR), Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang, ini.
Agus mencontohkan pelaksanaan MBG di Jepang yang sudah menyiapkan menu bulanan di bawah panduan ahli gizi. Menu ini tak hanya memperhatikan cita rasa dan gizi, namun juga mempertimbangkan keunikan kondisi setiap individu penerima makanan.
“Misalnya ada anak-anak yang punya alergi. Itu diganti dari rumah. Tapi menu itu jalan di sekolah. Jadi ada bagian yang tidak bisa kita makan, kita bawa makanan dari rumah untuk mengganti,” kata Agus.
Selain ahli gizi yang punya otoritas untuk menentukan komposisi gizi makanan, Agus menyarankan kepada pemerintah agar berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bisa memberi informasi tentang makanan lokal.
“Jadi MBG ini kesempatan yang bagus untuk memasukkan makanan-makanan lokal, dikenalkan kepada kepada anak-anak didik sejak dini,” kata pria yang juga menjabat Rektor di Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba), Banyuwangi ini.
MBG juga bisa menjadi sarana pembangunan karakter. “Pembangunan karakter itu penting. Salah satunya adalah bagaimana mendidik mereka, tentang table manner, karakter,” kata Agus. Melalui makan bersama, anak-anak bisa menerima pendidikan karakter dengan riang gembira.
“Jadi MBG bukan hanya ngomong makanannya saja. Mungkin yang pertama makanannya, yang kedua adalah gizinya. Yang ketiga adalah ngomong masukkan character building di situ. Di Jepang ada character building,” kata Agus.
Pembangunan karakter di meja makan merupakan bagian dari pembangunan kemampuan hidup anak-anak. “Table manner itu kan kesopanan orang dalam makan. Dan kita akan menjadi masyarakat global. Ajari dia table manner Eropa. Ajari dia table manner Asia. Ajari dia table manner Islam. Jadi ketika dia sudah besar nanti dan bertemu orang Eropa, orang Amerika, dia sudah biasa dan tahu table manner nya seperti apa,” katanya.
“Anak Indonesia akan menjadi global citizen . Dia harus punya kemampuan untuk beradaptasi dengan semua. Ditambah lagi life skill. Life skill tadi itu misalnya membersihkan piring sendiri, menata makan sendiri, membagikan sendiri, harus ngantri, harus bersih. Tidak semua keluarga mengajarkan itu. Sekolah yang harus bisa membangun itu,” kata Agus.
Agus memaklumi jika saat ini MBG masih mencari bentuk. Namun, harus ada evaluasi dan perbaikan dalam jangka menengah. “Jadi makanan bergizi gratis itu bukan hanya ngomong tentang makanan dan kesehatan. Pada saat yang sama, MBG bicara tentang culture, pada saat yang sama bicara tentang life skill dan karakter,” katanya. [wir]






