Tuban (beritajatim.com) – Keberhasilan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sebagai operator Lapangan Banyu Urip di bawah pengawasan SKK Migas terus menunjukkan kinerja luar biasa sejak berdirinya di Indonesia dari 125 tahun lalu, hingga kini yang masih eksis telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi negara serta masyarakat di daerah pengelolaannya.
Selain memberikan kontribusi yang besar melalui produksi minyak mentah, EMCL juga menjadi perusahaan yang berkomitmen dalam menjalankan operasi migas yang aman dan ramah lingkungan. Selain itu, EMCL yang berpedoman terhadap 3 pilar program yang dijalankan, mampu memberikan kesejahteraan untuk masyarakat.
Sebelum menilik keberhasilan EMCL dalam kinerjanya, adapun sejarah yang patut kita ketahui sebagai acuan dasar dan pengetahuan terhadap pengelolaan minyak yang kini mencapai lebih dari 200.000 barel perhari dan telah menyumbangkan sekitar 25 persen dari total produksi minyak nasional.
1. Sejarah EMCL di Indonesia.
Menurut External Engagements and Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar bahwa perusahaan EMCL sudah ada di Indonesia sejak kurang lebih 125 tahun lalu. Saat pertama kali masuk di Indonesia membuka kantor pemasaran dimulai dari Indramayu, Cirebon dan Tuban, pada tahun 1958 dengan menjual produk pelumas dan di tahun itu juga membuka di pelabuhan-pelabuhan.
Pada tahun 1894 masih di kantor pemasaran Indramayu, Cirebon dan Tuban memulai eksplorasi hulu migas di daerah Rumbai Provinsi Sumatera Barat dan bertemu dengan sumber di 1912 berlanjut sampai di tahun 1968 melakukan eksplorasi di Aceh Utara di Loksumawe dan ketemu lapangan Gas Arun. Saat itu juga, ekspor domestik sekitar 4.200 lebih cargo ke pasar-pasar Asia.
“Pada tahun 1998-1999 ketemu di Banyuurip merger Exxon dan Mobil merger Mobil dan Limited waktu mengakuisisi, serta melakukan kontrak kerjasama pada tahun 2005 dengan Pertamina EP Cepu, jadi Mobil Cepu Limited, Pertamina EP Cepu, Pertamina Field Poleng, dan BUMD,” tutur Tezhart Elvandiar saat menggelar ngabuburit di Kayu Manis Tuban. Selasa (25/03/2025).
Menurutnya, kontrak kerjasama tersebut terbilang sangat maju di jamannya dan saat itu, kontrak kerjasama Blok Cepu sudah masuk di BUMD Jawa Tengah dan Jawa timur yakni Blora, Bojonegoro. Serta di tahun 2006 pihaknya mulai tanda tangan Joint Agreement dan Mobil Cepu Limited ditunjuk sebagai Joint Operating dan terus memulai produksinya diawal sekitar 8.000 sampai 10.000 hingga di tahun 2008-2009.
“Pada tahun 2015 kita mulai produksi penuh di Lapangan Banyuurip, hingga produksi perharinya waktu itu meningkat sekitar 3.165-185.000 ribu barel perhari,” tambahnya.
Kemudian, tahun 2018 mengakuisisi menjadi oli federal atau oli mobil dan mengembangkan di tahun berikutnya Lapangan Kedung Keris dengan target sekitar 4.000 barel perhari, akan tetapi saat ini lebih dari 10.000 barel perhari hanya dari Lapangan Kedung Keris.
2. Kontribusi atau Sumbangsih EMCL terhadap Indonesia.
Berdasarkan laporan External Engagements and Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar terkait dengan pemasukan terhadap kas negara Lapangan Banyuurip dari Blok Cepu itu sekitar USD 29,5 miliar atau sekitar Rp 570 triliun. Maka dari itu, revenue atau pemasukan untuk SKK Migas atau daerah penghasil Migas pada tahun 1968 diinvestasikan sekitar USD 23 miliar dan lebih dari 200.000 masyarakat yang bertetangga dengan daerah operasi merasakan dampak positif dari program pengembangan masyarakat.
“Mengenai rencana pengembangan lapangan, awalnya di tahun 2025-2026 ini disepakati bahwa dibawah perut bumi ada sekitar 450.000.000 (empat ratus lima puluh juta) barel minyak mentah yang bisa diproduksikan di Lapangan Banyuurip dan disepakati juga rencananya kapasitas produksi puncaknya sekitar 160.000 barel perhari dengan tingkat puncak produksinya selama 2 tahun yang di rencanakan awalnya di tahun 2025,” ungkap pria yang akrab disapa Etang itu.
Dari perencanaan pembangunan produksinya tersebut, EMCL telah mengajukan ke SKK Migas dengan sepenuhnya melihat data-data geologis, data-data sumurnya dan diyakini dari data itu terus meningkat sampai sekitar lebih dari 1 miliar barel dibawah Lapangan Banyuurip dan di lapisan batuan diatasnya.
“Produksi puncaknya itu lebih lama, tadinya direncanakan 2 tahun sekarang lebih dari 5 tahun sudah produksi lebih dari 165.000 barel, rata rata disekitar 200 ribu barel lebih atau puncaknya sekitar 230 ribu barel dan tidak bisa lebih dari itu karena kapasitas atau fasilitasnya tidak bisa lebih dari itu,” tambahnya.
Mengenai revenue atau pemasukan yang didapatkan oleh negara dalam hal ini dijelaskan melalui Undang-Undang Dasar Pasal 33 kontribusi perusahaan digunakan untuk memberi kemakmuran kepada rakyat.
3. 3 Pilar Program Pengembangan Masyarakat
EMCL terus berfokus pada program pengembangan untuk masyarakat diantaranya 3 pilar yakni pengembangan ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Adapun, EMCL juga terus berkomitmen dalam mendukung akses air bersih kepada masyarakat baik di Bojonegoro, Tuban dan Blora.
Lebih dari 10.000 sambungan rumah atau 119.503 meter jaringan air bersih dan 56 menara tandon air. “Untuk penerima sudah 10.156 Kepala Keluarga di 40 desa dari Kabupaten Bojonegoro, Tuban dan Blora yang telah merasakan manfaat program air bersih ini,” kata Etang.
Sedangkan, di wilayah Kabupaten Tuban tepatnya di Desa/Kecamatan Rengel, EMCL juga mendukung Pemerintah Desa setempat untuk mengembangkan Tempat Pemungutan Sampah Sementara (TPS), selain menjadi solusi sampah pasar dan rumah tangga, masyarakat setempat juga dapat mengolah sampah yang telah dipilah menjadi sangat bernilai.
“Termasuk program pendidikan, kemarin siswa dari Bojonegoro mengikuti pelatihan teknologi di bidang Robotika. Hal ini merupakan komitmen EMCL untuk mendukung pendidikan sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM) di wilayah operasi Blok Cepu,” tutup Etang. [ayu/aje]






