Surabaya (beritajatim.com) – Aksi demonstrasi menuntut dibatalkannya UU TNI yang terjadi di Surabaya pada Senin (24/3/2025) kemarin hingga larut malam yang berujung bentrok, sudah selayaknya dan sepantasnya dihindari.
“Kami berharap masing-masing bisa menahan diri, baik itu aparat ataupun para demonstran. Kami mendapatkan beberapa video dari teman-teman, adanya pengrusakan fasilitas umum, kedai kopi oleh demonstran. Ini tidak bisa dibenarkan dari sudut pandang manapun dan kami meminta aparat penegak hukum bertindak tegas kepada para perusuh,” kata Tokoh Muda NU, Ubaidillah Amin (Gus Ubaid).
Menurut Gus Ubaid, sejatinya adik-adik mahasiswa yang melakukan demonstrasi murni memberikan masukan dan kontrol kepada pemerintah terkait UU TNI.
“RUU TNI sudah disahkan dan diparipurnakan di DPR RI. Saran kami kepada adik-adik mahasiswa sebagai pejuang dan pengawal demokrasi di negara ini, jika ada anggapan klausul yang di dalamnya menciderai cita-cita demokrasi dan ketakutan kembalinya dwifungsi ABRI bisa ditempuh dengan cara konstitusional. Yakni, mengujinya di Mahkamah Konstitusi (MK),” tuturnya.
Pihaknya juga berharap kejadian demonstrasi yang berujung bentrok tidak terulang lagi di kemudian hari, khususnya di Jawa Timur. Apalagi terjadi di 10 hari terakhir Ramadan, dimana masyarakat Jawa Timur, khususnya di Surabaya yang mayoritas kaum muslimin santri sedang berlomba beribadah menjemput malam Lailatul Qodar.
“Kami mengajak pribadi dan kolega kami, mari berlomba-lomba meningkatkan ibadah, sedekah dan berbuat baik di malam terakhir Ramadhan ini. Semoga kita semua mendapatkan Lailatul Qodar. Aamiin,” pungkasnya. (tok/ted)






