Tulungagung (beritajatim.com) – Tulungagung menghadapi ancaman serius terhadap kualitas air akibat meningkatnya pencemaran lingkungan. Dalam peringatan Hari Air Sedunia 2025, para pegiat lingkungan, komunitas, dan instansi terkait berkumpul untuk menyoroti pentingnya menjaga sumber daya air serta menggalakkan aksi konservasi.
Acara yang digelar di Warung Edukasi yang ada di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, ini dihadiri oleh sekitar 250 peserta dari berbagai komunitas lingkungan. Kolaborasi antara Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN), Perum Jasa Tirta (PJT) 1, dan Aliansi Lereng Wilis (ALWI) menjadi pendorong utama dalam menyuarakan isu pencemaran air dan upaya penanggulangannya.
Indra Birawa, Kabid PU SDA Kabupaten Tulungagung, menyoroti peningkatan jumlah penduduk yang berbanding lurus dengan semakin beratnya beban pencemaran lingkungan.
“Semakin banyak penduduk di bumi, semakin banyak juga beban pencemaran lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, Eko Wahyudi dari Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek menegaskan bahwa air merupakan indikator utama dalam menentukan kualitas lingkungan.
“Kami berharap semua stakeholder ikut dalam melestarikan sumber daya air,” tambahnya.
Pencemaran air di Tulungagung sebagian besar disebabkan oleh sampah rumah tangga yang mencemari aliran sungai, limbah industri, serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Dalam rangka mengurangi pencemaran air, para relawan berhasil mengumpulkan 270 kg sampah dari aliran sungai. Direktur Eksekutif BRUIN, Azis, menjelaskan bahwa sampah yang berhasil dikumpulkan meliputi plastik, sachet, popok sekali pakai, kain, styrofoam, botol air mineral (AMDK), hingga kemasan mie instan.
“Kami tidak hanya melakukan pembersihan sampah di aliran sungai, tetapi juga melakukan kegiatan penanaman pohon. Di antaranya 100 pohon puring dan 10 pohon fikus di sepanjang aliran sungai irigasi Plosokandang,” ungkapnya.
Sementara itu, Suroso dari DLH Kabupaten Tulungagung menekankan bahwa tema Hari Air Sedunia 2025 adalah Pelestarian Gletser, yang berfokus pada upaya menjaga keseimbangan suhu bumi dan mencegah kenaikan muka air laut akibat pencairan gletser.
“Kami berterima kasih dan tetap akan mendukung berbagai aktivitas mulai dari pembersihan sungai, penanaman pohon, hingga reboisasi di wilayah hutan,” ujarnya.
Kepala Sub Divisi PSDA WS Brantas II PJT 1, Shoni Heriono, menegaskan bahwa PJT 1 akan terus berkolaborasi dengan komunitas lingkungan dalam upaya konservasi air.
“Kami berharap kegiatan seperti ini semakin banyak dilakukan oleh komunitas dan pegiat lingkungan. Kolaborasi multipihak sangat penting untuk mencapai tujuan yang lebih besar dalam pelestarian sungai dan lingkungan hidup,” katanya. [ian]






