Surabaya (beritajatim.com) – Mudik senang dan balik tenang saat Hari Raya Idulfitri, Ini dia tips penting yang harus Anda simak sebelum.mudik ke kampung halaman masing-masing.
Dalam momentum yang penuh haru dan kerinduan ini, praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sekaligus pemerhati sosial-lingkungan, Edi Priyanto, mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan aspek keselamatan baik keselamatan rumah yang ditinggalkan, diri sendiri selama perjalanan, maupun lingkungan sekitar.
“Mudik bukan hanya soal pulang. Mudik adalah perjalanan suci menuju kehangatan keluarga. Dan keselamatan adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Maka jangan abaikan langkah-langkah kecil yang bisa menyelamatkan nyawa dan harta benda,” ujar Edi.
1. Pastikan Rumah Aman Sebelum Ditinggal
Edi menekankan pentingnya melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi rumah sebelum ditinggalkan. Potensi kebakaran, banjir, hingga pencurian seringkali terjadi akibat kelalaian kecil yang sebenarnya bisa dicegah.
Menurutnya, masyarakat perlu:
• Mencabut semua peralatan listrik yang tidak digunakan serta mematikan saklar utama bila memungkinkan.
• Melepas regulator tabung gas untuk mencegah kebocoran.
• Menutup seluruh sumber air dan memastikan tidak ada saluran yang tersumbat.
• Membuang sampah terutama yang organik, agar tidak memicu bau dan hama.
• Menginformasikan ke tetangga, satpam, atau RT setempat, serta meninggalkan kontak darurat yang bisa dihubungi.
“Banyak kebakaran rumah saat mudik terjadi karena listrik atau gas. Padahal itu bisa dicegah hanya dengan satu-dua langkah sederhana,” tegasnya.
2. Jaga Keselamatan dan Kesehatan Diri di Jalan
Selain memastikan kondisi rumah aman, Edi juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi tubuh dan kendaraan sebelum melakukan perjalanan jauh.
“Jangan jadikan mudik sebagai ajang uji ketahanan tubuh. Istirahatlah cukup. Periksa kendaraan secara menyeluruh, dan jangan berkendara saat mengantuk,” tuturnya.
Ia menyarankan agar pemudik mempersiapkan:
• Kondisi fisik yang prima, terutama bagi yang tetap berpuasa saat perjalanan.
• Kendaraan yang layak jalan, termasuk pengecekan ban, rem, oli, dan lampu.
• Obat-obatan pribadi, vitamin, masker, dan air minum selama perjalanan.
• Bekal makanan higienis, terutama bagi yang menghindari risiko keracunan saat berbuka di jalan.
Tak lupa, Edi mengingatkan pentingnya istirahat rutin setiap 2–3 jam dan tidak memaksakan diri demi cepat sampai tujuan.
3. Bangun Budaya Keselamatan Sosial
Sebagai pegiat komunitas yang aktif di berbagai kegiatan lingkungan dan edukasi, Edi juga menekankan pentingnya budaya keselamatan sosial. Ia mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan, saling menjaga, dan bersikap toleran selama perjalanan mudik.
“Mudik adalah momen kebersamaan. Jika di jalan ada yang butuh bantuan, bantu. Jika ada macet, sabar. Jika ada anak kecil atau lansia, beri ruang. Budaya keselamatan tak cukup di pelatihan, tapi harus hidup dalam sikap kita sehari-hari,” katanya.
4. Spiritualitas dan Keseimbangan Hati
Selain aspek teknis dan sosial, Edi juga mengaitkan pentingnya keselamatan dengan nilai spiritualitas. “Keselamatan bukan hanya prosedur. Ia adalah bentuk tanggung jawab dan cinta. Kepada keluarga, kepada lingkungan, bahkan kepada diri sendiri. Karena sesungguhnya, selamat adalah bagian dari selamat dunia dan akhirat,” ujar Edi dengan nada haru.
Menurutnya, perjalanan mudik yang dilakukan dengan persiapan matang, niat yang benar, dan sikap yang bijak akan menghadirkan keberkahan yang tak hanya sampai kampung halaman, tapi juga dalam hati dan pikiran.
Penutup: Pulang dalam Selamat, Kembali dalam Berkah
Edi menutup pesannya dengan kalimat yang menegaskan makna keselamatan dalam mudik:
“Mudik itu soal pulang, tapi mudik yang bermakna adalah ketika kita pulang dalam selamat, kembali ke aktivitas dengan berkah, dan tetap membawa nilai-nilai kebaikan yang tumbuh sepanjang perjalanan.”
Edi percaya bahwa budaya keselamatan harus menjadi kebiasaan kolektif, bukan hanya tanggung jawab pribadi.[rea]






