Bojonegoro (beritajatim.com) – Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Bojonegoro setelah dua tokoh daerah, Eny Soedarwati dan dr Dian Novita, menjadi korban dalam tragedi kecelakaan bus jemaah umrah di Wadi Qudeid, Arab Saudi, pada Kamis (20/3/2025). Bus yang mereka tumpangi mengalami tabrakan, terbalik, lalu terbakar dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah.
Kecelakaan ini merenggut nyawa enam jemaah asal Indonesia, termasuk Eny Soedarwati, anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), serta dr Dian Novita, Wakil Direktur Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Sumberrejo.
Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar, yang juga memiliki hubungan keluarga dengan dr Dian Novita, mengonfirmasi kabar duka ini. “Bus tersebut menabrak truk, terbalik, dan kemudian terbakar. Enam jemaah meninggal dunia, termasuk dua warga Bojonegoro,” ujarnya, Jumat (21/3/2025).
Sosok Eny Soedarwati: Legislator yang Peduli pada Masyarakat
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro dari PKB, Eny Soedarwati dikenal sebagai sosok yang vokal dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, terutama di bidang pendidikan dan kesejahteraan sosial.
Keaktifannya dalam berbagai kegiatan sosial menjadikannya sosok yang dihormati di kalangan masyarakat dan rekan seprofesinya. Kepergiannya yang mendadak dalam tragedi ini meninggalkan duka mendalam, terutama bagi konstituen dan kolega di DPRD Bojonegoro.
Sosok dr Dian Novita: Dokter yang Berdedikasi di Dunia Kesehatan
Sementara itu, dr Dian Novita merupakan figur penting di dunia kesehatan Bojonegoro. Sebagai Wakil Direktur Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Sumberrejo, ia dikenal berdedikasi dalam meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Sebagai tenaga medis, dr Dian memiliki reputasi sebagai dokter yang ramah, profesional, dan selalu siap membantu pasiennya. Kepergiannya dalam insiden ini menjadi kehilangan besar bagi dunia kesehatan di Bojonegoro.
Kabar meninggalnya dua tokoh ini mengejutkan banyak pihak, terutama keluarga, rekan kerja, serta masyarakat yang mengenal mereka. Ucapan duka terus mengalir dari berbagai pihak, baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat umum.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan KJRI Jeddah telah turun tangan dalam menangani insiden ini. Kemlu berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan agensi umrah guna memastikan data lengkap para korban dan memfasilitasi pemulangan jenazah.
Tragedi ini menjadi pukulan berat, terutama bagi keluarga dan masyarakat Bojonegoro yang kehilangan dua sosok panutan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, dan para korban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. [ian]






