Pacitan (beritajatim.com) – Suasana Pasar Kelapa di Dusun Bangsri, Desa Mentoro, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, tampak sepi. Sejumlah pedagang kelapa dan rempah-rempah, terlihat mengangkut dagangan ke dalam truk pada Selasa (18/3/2025) siang. Aktivitas perdagangan di pasar ini lesu, dengan sedikitnya transaksi yang terjadi, termasuk untuk komoditas kelapa.
Koordinator Pengelola Pasar Kelapa, Landung Budiono, mengungkapkan yang menjadi sepinya pasar tersebut. Ia mengatakan bahwa sepinya pasar disebabkan oleh banyaknya pedagang yang kini, lebih memilih membeli kelapa langsung dari petani di desa-desa tanpa melalui pasar.
“Pedagang di desa semakin banyak. Mereka langsung membeli kelapa dari petani dan menjualnya ke berbagai daerah luar Pacitan,” ujarnya saat ditemui di pasar.
Bahkan, menurut Landung, para pedagang kini memiliki tukang panjat kelapa sendiri yang langsung menyasar kebun-kebun petani.
“Sekarang mereka punya bakul dan tukang panjat sendiri. Kalau tidak begitu, mereka tidak dapat dagangan,” lanjutnya.
Penurunan aktivitas di pasar ini terjadi sejak pertengahan 2024. Landung menyebut, jumlah kelapa yang dikirim dari pasar ke luar daerah mengalami penurunan drastis. Jika sebelumnya truk yang keluar pasar membawa muatan penuh, kini hanya terisi seperempat hingga setengah bak saja.
“Jumlah kendaraan yang masuk ke pasar masih sama, tetapi dagangan yang mereka bawa keluar jauh berkurang,” tambahnya.
Saat ini, harga kelapa di Pasar Kelapa Bangsri berkisar antara Rp7.000 hingga Rp8.000 per butir, tergantung ukuran dan kualitasnya.
“Sekarang harga kelapa tinggi, tapi justru pasarnya sepi. Kalau harga murah, biasanya pasar malah lebih ramai,” pungkas Landung.
Pasar Kelapa Bangsri buka setiap pasaran Legi dan Wage. Pada pasaran Wage, aktivitas pasar mulai bubar sekitar pukul 09.00 WIB, sedangkan pada pasaran Legi, sudah sepi sejak pukul 07.00 WIB. (tri/ian)






