Malang (beritajatim.com) – Pada era digital yang serba instan ketika orang lebih memilih menggulir layar ponsel daripada membuka halaman buku, industri penerbitan buku menghadapi tantangan berat. Namun, di tengah gempuran konten digital ini, penerbit Jagat Litera justru muncul sebagai penerbit independen yang tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan pesat.
Sejak berdiri pada 24 Mei 2021, penerbit asal Malang ini telah menerbitkan hampir 300 judul buku. Lebih dari sekadar mencetak buku, Jagat Litera juga aktif mengembangkan ekosistem literasi melalui berbagai program edukatif dan kerja sama dengan komunitas literasi.
“Kami tidak sekadar menerbitkan buku, tetapi juga ingin menumbuhkan budaya literasi yang lebih luas. Kami ingin membuat membaca dan menulis menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan hanya sebagai aktivitas akademik atau formal,” ungkap Sutrisno Gustiraja Alfarizi, atau yang akrab disapa Gusti Trisno, Direktur dan Founder Jagat Litera.
Salah satu inovasi yang dilakukan Jagat Litera untuk membangun ekosistem literasi adalah dengan mendirikan Sekolah Menulis Jagat (SEMEJA), sebuah platform pelatihan menulis bagi berbagai kalangan.
Sejak November 2024, SEMEJA rutin mengadakan kelas menulis secara daring dan luring dengan menggandeng para akademisi dan praktisi kepenulisan. Program ini dirancang untuk membantu penulis pemula, guru, hingga siswa agar lebih percaya diri dalam menghasilkan karya.
Pada 15-16 Maret 2025, Jagat Litera akan menggelar Pondok Narasi dan Pondok Puisi sebagai bagian dari SEMEJA. Berbeda dari pelatihan sebelumnya, program ini khusus menyasar guru dan siswa, dengan harapan menciptakan sekolah yang lebih kaya akan budaya literasi.
“Kami ingin agar sekolah tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis secara akademis, tetapi juga membangun kebiasaan menulis yang kreatif dan reflektif. Makanya, kami menggandeng sekolah-sekolah untuk berkolaborasi,” tambah Gusti.
Persaingan dalam industri perbukuan di Indonesia semakin ketat. Banyak penerbit baru bermunculan, termasuk penerbit vanity (berbayar) yang menawarkan paket penerbitan murah. Meski begitu, Jagat Litera tetap memilih untuk fokus pada kualitas.
“Kami menyadari bahwa industri buku terus berkembang. Ada penerbit yang menawarkan paket sangat murah, tetapi kami percaya bahwa setiap penerbit memiliki pasarnya sendiri. Kami memilih untuk fokus pada niche tertentu dan mencari naskah-naskah yang benar-benar berkualitas,” jelas Gusti.
Selain itu, Jagat Litera juga memanfaatkan media digital untuk menjangkau lebih banyak pembaca. Melalui platform seperti Instagram, kelas daring, hingga iklan digital, mereka mampu menarik lebih banyak perhatian terhadap karya-karya yang diterbitkan.
Jagat Litera tidak hanya ingin berhenti sebagai penerbit. Dalam visi jangka panjangnya, mereka bercita-cita untuk menjadi pusat literasi nasional dengan berbagai inovasi, seperti membangun platform digital untuk membaca dan menulis, seperti Wattpad versi lokal. Kemudian mendirikan toko buku indie sebagai wadah bagi penulis lokal untuk menjual buku mereka.
“Kami juga ingin mengembangkan komunitas penulis dan pembaca agar literasi semakin berkembang di berbagai daerah. Kami ingin melakukan lebih dari sekadar menerbitkan buku. Kami ingin membangun sebuah sistem yang membuat literasi tetap hidup dan berkembang di Indonesia,” tutup Gusti Trisno.
Di tengah tantangan zaman dan persaingan industri, Jagat Litera telah membuktikan bahwa literasi tetap relevan. Dengan strategi yang inovatif dan adaptif, mereka terus berusaha agar membaca dan menulis tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat—bukan sekadar kebiasaan yang mulai ditinggalkan.
Sebagai penerbit independen yang terus bertumbuh, Jagat Litera adalah bukti bahwa mimpi besar bisa diwujudkan melalui ketekunan, komitmen, dan semangat berbagi inspirasi melalui literasi.
Cikal bakal berdirinya Jagat Litera tidak lepas dari perjalanan pribadi Gusti Trisno dalam dunia kepenulisan. Kecintaannya pada dunia literasi dimulai sejak remaja, saat ia merasa bahwa menulis adalah cara terbaik untuk mengatasi rasa minder dan menuangkan berbagai gagasan.
“Dulu saya adalah anak yang tidak percaya diri. Saya sulit mengungkapkan perasaan secara langsung, dan menulis menjadi cara saya untuk menguraikan semua itu. Lama-kelamaan, saya menyadari bahwa menulis bukan hanya terapi pribadi, tetapi juga cara untuk berbagi inspirasi dengan orang lain,” kisahnya.
Seiring waktu, ia mulai aktif mengikuti berbagai kompetisi menulis dan mengirimkan karyanya ke media massa. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa menulis adalah bagian dari kehidupannya. Namun, ia juga menyadari bahwa banyak penulis berbakat yang kesulitan menemukan wadah untuk menerbitkan karyanya.
Dari situlah lahir Jagat Litera, bukan sekadar penerbit. Jagat Litera diharapkan menjadi sebuah rumah bagi para penulis yang ingin karyanya diapresiasi dan menjangkau lebih banyak pembaca.
Nama Jagat Litera sendiri memiliki filosofi yang mendalam. Kata “Jagat” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti dunia atau bumi, sedangkan “Litera” diambil dari istilah literasi dalam bahasa Inggris.
“Kami ingin menyatukan nilai-nilai literasi dari Timur dan Barat. Seperti konsep Yin dan Yang, keduanya bisa berpadu secara harmonis. Kami percaya bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga cara berpikir kritis, memahami dunia, serta mengolah informasi dengan lebih bijak,” jelas Gusti Trisno.
Dengan filosofi ini, Jagat Litera ingin menjadi pusat inspirasi bagi dunia literasi Indonesia. Tagline mereka, “Menerbitkan Inspirasi”, mencerminkan misi tersebut: setiap buku yang diterbitkan diharapkan mampu memberikan wawasan, motivasi, dan nilai edukatif bagi pembacanya.
Sejak beroperasi, Jagat Litera telah menerbitkan hampir 300 judul buku—terdiri dari 262 judul dengan ISBN, serta 25 judul dengan QRSBN dan QRCBN. Buku-buku tersebut mencakup beragam genre, mulai dari buku ajar sekolah, referensi akademik, hingga karya sastra seperti kumpulan puisi, cerpen, dan novel.
“Kalau ditanya mana yang paling berkesan, ada dua buku favorit saya. Pertama, “Menulis Prosa dan Puisi, Membangun Jiwa Wirausaha” yang saya tulis bersama Prof. Roekhan dan Achmad Fatchur Rizqi. Buku ini tidak hanya membahas teknik menulis, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadikan menulis sebagai peluang usaha,” ungkap Gusti Trisno.
Buku favorit kedua adalah “Sastra Indonesia Angkatan Inteligensia Artifisial” karya Royyan Julian, yang bahkan mendapat Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur pada 2023. (dan/ian)






