Jombang (beritajatim.com) – Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momen refleksi dan pendalaman ilmu bagi umat Islam. Di Pondok Pesantren Putri Mambaul Hikam, Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, suasana Ramadan terasa semakin khusyuk dengan lantunan ayat suci dan kajian kitab kuning yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para santri.
Seusai salat Zuhur, puluhan santri duduk bersila dengan penuh perhatian, kitab “Bidayatul Hidayah” karya Imam Al-Ghazali terbuka di hadapan mereka. Mata mereka fokus, tangan mencatat, dan hati mereka menyimak dengan saksama setiap penjelasan yang disampaikan oleh pengasuh pondok, Nyai Hj. Maftuhah Mustiqowati, yang akrab disapa Ning Ika.
“Kitab ini mengajarkan adab dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari,” ujar Ning Ika dengan lembut. “Mulai dari cara salat yang benar, berwudhu, tidur, hingga etika masuk masjid. Semua ini adalah jalan menuju ketaatan kepada Allah.”
Bagi para santri, mengaji selama Ramadan bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual. Assyifa, salah satu santri, mengungkapkan bahwa “Bidayatul Hidayah” membantunya memahami bagaimana mencari dan menjaga hidayah dalam kehidupan.
“Kami belajar bahwa ibadah bukan hanya soal kewajiban, tetapi juga tentang bagaimana hati ini terhubung dengan Allah dalam setiap aktivitas,” tuturnya.
Setiap hari, selepas salat Subuh dan Zuhur, mereka berkumpul untuk mendalami kitab. Menjelang berbuka puasa, mereka bergantian antara tadarus Alquran dan menyiapkan makanan berbuka. Rutinitas ini tidak hanya memperkuat ilmu agama, tetapi juga mempererat kebersamaan di antara mereka.
“Kami berharap setelah Ramadan ini, keimanan semakin kuat dan ibadah semakin tertata,” kata Ning Ika menutup kajiannya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, santri Mambaul Hikam tetap teguh menjaga tradisi keilmuan Islam. Bagi mereka, Ramadan adalah kesempatan emas untuk menjemput hidayah, memperdalam ilmu, dan memperbaiki diri agar lebih dekat kepada-Nya. [suf]






