Mojokerto (beritajatim.com) – Setelah tiga bulan ditutup akibat kerusakan tiang penyangga, Jembatan Pagerluyung yang menghubungkan Kecamatan Sooko dan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, akhirnya kembali dibuka. Namun, akses ini masih terbatas hanya untuk kendaraan roda dua.
Humas PG Gempolkrep, Taufan Pamungkas, mengonfirmasi bahwa pembukaan jembatan dilakukan mulai Sabtu (8/3/2025). Keputusan ini diambil setelah dilakukan koordinasi dengan Tim Konsultan dan Pelaksana Proyek.
“Kenapa hanya untuk roda dua? Karena sampai hari ini kami belum preper. Kemarin sudah koordinasi dengan Tim Konsultan dan Pelaksana Proyek, untuk kendaraan roda dua tidak masalah (dibuka),” ungkap Taufan.
Meski sudah dibuka untuk kendaraan roda dua, jembatan ini masih belum bisa dilewati kendaraan roda empat. Pasalnya, pengerjaan perbaikan baru bisa dilakukan setelah debit air Sungai Brantas surut. Sejak ditutup pada 9 Desember 2024, debit air sungai tetap tinggi akibat curah hujan yang meningkat.
“Karena rencana kita akan pasang pilar sambung, ada dua sampai tiga titik untuk memperkuat pilar yang patah. Nantinya juga akan didesain untuk mengarahkan sampah-sampah dari arah barat,” jelasnya.
Pembukaan kembali Jembatan Pagerluyung ini juga dilakukan atas permintaan Kasat Lantas Polres Mojokerto Kota untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di Jembatan Lespadangan yang menjadi jalur alternatif.
Meskipun akses roda dua telah dibuka, belum ada kepastian apakah jembatan akan kembali ditutup saat pengerjaan pilar sambung dimulai. Menurut Taufan, kemungkinan jembatan bisa dibuka untuk semua kendaraan pada saat musim giling tebu yang dimulai 9 Mei 2025.
“Lebaran hanya untuk kendaraan roda dua, kami pastikan belum bisa untuk kendaraan roda empat,” tambahnya.
Saat ini, proses perbaikan yang bisa dilakukan hanya sebatas pembersihan sampah dan mitigasi oleh Tim Konsultan dan Pelaksana Proyek. Perbaikan utama masih menunggu penurunan debit air Sungai Brantas.
Sebelumnya, Jembatan Pagerluyung ditutup pada 9 Desember 2024 karena adanya kerusakan pada tiang penyangga yang patah dan retak. Keberadaan jembatan ini sangat vital bagi mobilitas warga sekitar serta distribusi tebu ke PG Gempolkrep. [tin/ian]






