Malang (beritajatim.com) – Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) meluncurkan DIGITREE, sistem digitalisasi pohon berbasis QR Code yang mendukung edukasi lingkungan dan ekowisata digital. Inovasi ini memungkinkan masyarakat mengakses informasi lengkap tentang flora secara interaktif dan edukatif.
DIGITREE adalah proyek akademik yang juga bagian dari upaya UB dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-15: Melindungi, Merestorasi, dan Meningkatkan Ekosistem Daratan.
Menurut Bayu Sutawijaya, S.Kom., M.Kom., selaku ketua tim pengembang, inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan dengan cara yang lebih modern dan praktis.
“Dengan sistem ini, setiap pohon yang telah didigitalisasi memiliki QR Code unik. Ketika kode ini dipindai, pengguna dapat langsung melihat informasi lengkap mulai dari taksonomi, morfologi, manfaat, hingga cerita rakyat yang terkait dengan pohon tersebut,” ujar Bayu, Kamis (6/3/2025).
Tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga tersedia dalam format audio, gambar, hingga video, sehingga informasi menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.

DIGITREE merupakan hasil kerja kolaborasi lima keahlian sekaligus, yakni Programming & Database, Strategi Pemasaran & Kebijakan, Televisi & Animasi, Kehutanan & Konservasi. Tim ini terdiri dari dosen, mahasiswa, dan alumni UB dari berbagai latar belakang, yaitu Bayu Sutawijaya, Susenohaji, Erlangga Setyawan, Citra Dewi Megawati, Miro Boyke Persijn, Maulana Derifato Achmad, dan Riko Saputra L.
Susenohaji, SE., M.Si., salah satu anggota tim, menekankan bahwa proyek ini bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi.
“Melalui digitalisasi ini, masyarakat desa bisa berbagi cerita tentang pohon, sejarahnya, hingga manfaat ekologisnya. Ini bisa mendukung desa wisata, menarik lebih banyak pengunjung, dan meningkatkan perekonomian lokal,” jelasnya.
Salah satu aspek unik dari DIGITREE adalah konsepnya sebagai aset desa. Pohon yang didigitalisasi tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga memiliki potensi ekonomi.
Dengan semakin banyaknya wisatawan yang tertarik untuk belajar tentang pohon melalui QR Code, desa bisa mengembangkan ekowisata dan meningkatkan pendapatan. Sistem ini juga menerapkan model Software as a Service (SaaS) berbasis langganan, sehingga desa atau komunitas bisa mendapatkan pemasukan berkelanjutan dari digitalisasi pohon.

Sponsor dari CSR (Corporate Social Responsibility) juga dapat ikut berpartisipasi dalam pembiayaan dan pemeliharaan sistem.
“Aplikasi ini harus tetap berjalan, dan agar bisa sustain, dibutuhkan pendanaan. Semakin banyak pengguna dan sponsor, semakin besar dampaknya bagi lingkungan dan perekonomian desa,” tambah Susenohaji.
DIGITREE telah diuji coba di Kota Probolinggo, dengan lebih dari 2.000 pohon yang telah dipasangi QR Code di berbagai lokasi strategis seperti Alun-Alun, Pendopo, Pantai Cemara, hingga Taman Wisata Lingkungan Hidup.
Ke depan, sistem ini akan diperluas ke tiga sekolah di Malang dan Kebun Raya Purwodadi melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam program Riset Kolaboratif Indonesia (RIM).
Bahkan, DIGITREE juga telah diperkenalkan dalam acara Pencanangan Gerakan Anti Green Money Laundering yang diadakan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Tim pengembang berharap DIGITREE bisa menjadi lebih dari sekadar teknologi digital, tetapi juga sebagai alat edukasi lingkungan yang berkelanjutan dan inklusif.
“Tujuan kami bukan hanya membuat orang peduli, tapi juga memudahkan mereka untuk mencintai lingkungan. Kami ingin membuktikan bahwa Vokasi UB tidak hanya diam, tetapi terus berkontribusi nyata,” pungkas Susenohaji.






