Blitar (beritajatim.com) – Lagu “Iclik Cinta” karya Mala Agatha dan Icha Cellow menuai kritik pedas dari masyarakat Blitar. Pasalnya lagu “Iclik Cinta” itu menggunakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Bung Karno sebagai latar video klip..
Lebih mirisnya kedua penyanyi yakni Mala Agatha dan Icha Cellow berpakaian seksi saat pengambilan video clip di Perpusnas Bung Karno. Hal itu pun menuai kritikan pedas dari netizen.
Pihak Perpusnas Bung Karno Blitar sendiri tidak tahu kalau tempat bersejarah ini digunakan untuk tempat shooting video clip lagu Iclik Cinta.
“Memang benar ada pengambilan video klip terkait dengan judul lagu ‘Iclik Cinta’ yang sekarang sedang beredar luas di masyarakat. Tapi memang perlu digarisbawahi, pengambilan video tersebut memang tanpa izin dan sepengetahuan dari kami di pengelola Perpustakaan Bung Karno,” ungkap Ketua Kelompok Kerja Layanan Informasi dan Kerjasama Perpustakaan Nasional Bung Karno, Hery Purwanto, saat ditemui pada Selasa (4/3/2025) kemarin.
Pihak Perpusnas Bung Karno baru tahu jika tempatnya dijadikan latarbelakang video iclik cinta usai mendapatkan banyak pesan dari netizen. Kemudian Perpusnas melakukan pengecekan video klip lagu tersebut.
“Kami mendapat sejumlah pengaduan masyarakat, ada yang lewat DM di Instagram, ada yang lewat Facebook, beberapa guru-guru juga bertanya lewat Whatsapp kami ‘Mas membuat video seperti itu di Perpus apa diizinkan?’. Saat kita cek ternyata video tersebut sudah beredar di Youtube 8 hari. Besok paginya langsung kita rapat lalu mengontak manajemen video karena keberatan kami,” ungkap Staf Humas Perpusnas Bung Karno, Arda Brian.
Pihak Perpusnas Bung Karno sendiri tidak pernah mempermasalahkan lagi atau karya seni dibuat masyarakat. Hanya saja lagu ‘Iclik Cinta’ yang dibuat berlatar belakang Perpusnas Bung Karno menang tidak tepat, mengingat Bung Karno adalah tokoh bersejarah yang seharusnya video yang dibuat harus bersifat edukasi.
“Lagunya sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kami emban. Akhirnya pihak manajemen pembuat video itu datang ke kami dan menyepakati untuk mengganti video latar belakang,” ujar Arda.
Hanya saja video yang saat ini masih beredar, masih bisa dikenali kalau itu berlatar belakang Perpustakaan Nasional Bung Karno. Dilihat arsitektur gabungan modern tradisional dengan tembok batu berelemen geometris yang bersih dan simetris, bagi warga Kota Blitar dan sekitarnya akan sangat mudah mengenalinya kalau video itu dibuat di lingkungan Perpusnas Bung Karno.
“Perpustakaan Bung Karno ini sebenarnya ruang publik, masyarakat juga sering bikin konten dan video, diupload di media sosial dan disebarluaskan tapi aman-aman saja. Baru kali ini saja video yang diupload menyalahi nilai-nilai yang kami emban,” ujar Arda.
“Kami tidak pernah mempermasalahkan tentang lagu, karena itu kreativitas yang tidak bisa kita batasi. Selama ini ada konten kreator yang izin dahulu, ada juga yang tidak, karena kami tidak ingin ingin ada kesan membatasi kreativitas. Tapi pengalaman ini kami jadikan evaluasi, bukannya kita mengawasi atau membatasi masyarakat, tapi memastikan masyarakat bebas berekspresi disamping sejalan dengan nilai-nilai yang kami emban di Perpustakaan Bung Karno ini,” sambungnya. [owi/beq]






