Jombang (beritajatim.com) – Momentum bulan suci Ramadan biasanya identik dengan kegiatan mengaji kitab kuning dan tadarus Alquran. Namun, di salah satu kampus di Jombang, Jawa Timur, terdapat tradisi unik, yakni mewajibkan mahasiswa menulis Alquran sebanyak 30 juz dengan tulisan tangan.
Metode ini bertujuan sebagai sarana memahami dan mendekatkan diri dengan kitab suci Alquran sebagai kalam ilahi. Di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Urwatul Wutsqo Jombang (STIT-UW Jombang), suasana belajar mengajar tampak seperti perguruan tinggi pada umumnya.
Namun, kampus yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqo ini memiliki metode pembelajaran yang unik dan khas, yaitu adanya mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa menulis Alquran 30 juz dengan tulisan tangan.
Tidak hanya sekadar membaca atau menghafal, mahasiswa di kampus ini juga dilatih untuk menulis setiap ayat dalam kitab suci. Melalui mata kuliah ini, mereka tidak hanya semakin memahami Alquran, tetapi juga membangun kedekatan spiritual dengan kitab suci.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat senang. Karena di kampus ini diajarkan untuk menulis Alquran. Maka setidaknya saya bisa khatam Alquran dengan menulis sekaligus membaca. Tidak berat, karena kami diberi waktu menulis Alquran di sela-sela kegiatan. Bisa dilakukan di waktu longgar, tidak harus di jam kuliah saja,” ungkap Faiqoh Nurlaili Azis, salah satu mahasiswi, Senin (3/3/2025).
Proses dan Durasi Penulisan Alquran
Mahasiswa diberikan keleluasaan dalam menyelesaikan tugas menulis Alquran 30 juz. Mereka menargetkan penyelesaian dalam waktu empat tahun, dengan pembagian dua juz di semester pertama dan empat juz di semester dua hingga semester delapan.
Solechan, Kaprodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STIT-UW Jombang, menjelaskan bahwa mata kuliah menulis Alquran ini merupakan bagian dari visi-misi lembaga, yakni menjadikan kampus sebagai pusat perjuangan Alquran.
“Di dalam mata kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Urwatul Wutsqo ini, ada mata kuliah Alquran. Mahasiswa diwajibkan menulis sebagai cara untuk mengingat apa yang sudah dihafalkan. Jadi, Alquran sebisa mungkin dihafalkan, atau setidaknya pernah hafal. Apa yang sudah dihafal kemudian ditulis, sehingga mereka tidak hanya hafal, tetapi juga bisa menuliskan apa yang mereka pelajari,” jelas Solechan.
Ia menambahkan bahwa skema penulisan dibagi dalam delapan semester. Di semester pertama, mahasiswa menulis juz 1 dan juz 30. Kemudian, 28 juz lainnya dibagi rata mulai dari semester dua hingga semester tujuh, dengan masing-masing semester menulis empat juz.
Metode Pembelajaran Alquran yang Inovatif

Selain mata kuliah menulis Alquran dengan tulisan tangan, kampus dan pondok pesantren ini juga berhasil menciptakan metode pembelajaran membaca dan memahami Alquran dengan mudah yang disebut Metode Qurany. Metode ini dirancang agar mahasiswa dan santri tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami isi kandungan Alquran dengan lebih baik.
Dengan adanya metode inovatif seperti ini, STIT-UW Jombang bukan hanya mendidik mahasiswa agar hafal Alquran, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan memahami dan mengajarkan Alquran kepada masyarakat luas. Tradisi menulis Al-Qur’an ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan akademik dan spiritual dapat berjalan beriringan dalam proses pembelajaran Islam yang lebih mendalam. [suf]






