Ponorogo (beritajatim.com) – Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Kabupaten Ponorogo menjalankan tradisi nyekar atau ziarah kubur ke makam keluarga dan leluhur. Tradisi ini biasanya dimulai sejak H-3 hingga H-1 Ramadhan, di mana warga datang ke makam untuk mendoakan orang-orang tercinta yang telah meninggal dunia.
Dari tradisi ini, muncul fenomena musiman di Ponorogo, yaitu menjamurnya penjual bunga dadakan. Mereka menjajakan bunga tabur yang digunakan warga saat berziarah. Para pedagang ini berjualan di sekitar makam atau di pinggir perempatan desa-desa.
Salah satu penjual bunga dadakan adalah Tuminatin, warga Desa Ringinputih, Kecamatan Sampung. Ia sudah belasan tahun menjalankan usaha ini, yang diwariskan turun-temurun dari orang tuanya. Setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, Ia selalu berjualan bunga tabur untuk memenuhi kebutuhan warga yang akan nyekar.
“Sudah tradisi setiap tahun. Biasanya orang-orang mulai ziarah sejak tiga hari sebelum puasa. Kalau mendekati hari H, permintaan bunga bisa meningkat tajam,” ujar Tuminatin, Kamis (27/02/2025).
Dari berjualan bunga tabur selama tiga hari, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 200 ribu per hari. Pendapatan ini bisa lebih besar pada H-1 Ramadhan atau H-1 Idul Fitri, ketika permintaan bunga semakin tinggi.
Tak hanya saat menjelang Ramadhan, tradisi nyekar juga kembali dilakukan mayoritas warga Ponorogo menjelang Idul Fitri. Pada momen tersebut, peziarah datang berbondong-bondong ke makam, sehingga keberadaan penjual bunga dadakan pun kembali menjamur.
“Jadi tradisi nyekar warga Ponorogo yang masif itu, ya saat jelang Ramadhan dan jelang Idul Fitri. Sehari sebelumnya itu pasti ramai sekali,” tambah Koswati, penjual bunga dadakan yang juga dari Desa Ringinputih. (end/kun)






