Bondowoso (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia.
Dengan brand “Bondowoso Republik Kopi” (BRK), pemerintah dan petani setempat berupaya meningkatkan kualitas dan memperluas pasar kopi, baik di dalam maupun luar negeri.
Keberhasilan kopi Bondowoso tidak terlepas dari peran pemerintah daerah, terutama sejak era kepemimpinan Bupati Amin Said Husni.
Saat itu, pemerintah menggandeng berbagai pihak seperti Bank Indonesia (BI), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya untuk memberikan edukasi dan pendampingan kepada petani kopi.
Sebagai hasil dari program pembinaan tersebut, kopi Arabika Ijen-Raung mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2013 dengan nama “Klaster Arabika Java Ijen Raung”.
Hal ini menjadi langkah besar dalam meningkatkan daya saing kopi Bondowoso di pasar internasional.
Harsono, seorang petani kopi di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, merasakan langsung manfaat dari pembinaan tersebut.
Awalnya hanya menjual kopi dalam bentuk gelondongan, kini ia mampu meningkatkan kualitas produk hingga menjual dalam bentuk green bean dan bubuk kopi.
“Petani kini juga bisa menjadi pengusaha. Kita harus mampu menguasai rantai bisnis kopi, bukan hanya sebagai produsen,” ujarnya kepada BeritaJatim.com, Kamis (27/2/2025).
Menurut Harsono, harga kopi green bean Arabika Ijen Raung saat ini berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp125 ribu per kilogram.
Sementara itu, kopi robusta yang semakin diminati mengalami kenaikan harga, berkisar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Permintaan kopi Bondowoso tidak hanya datang dari dalam negeri. PT Sucafina Indonesia Coffee, perusahaan dagang kopi berkelanjutan, telah menjalin kontrak dengan kelompok petani di Desa Sukorejo.
Perusahaan ini menjadi salah satu pemasok utama kopi Arabika Ijen Raung ke jaringan kedai kopi ternama, Starbucks.
“Selain Sucafina, dalam empat tahun terakhir juga masuk perusahaan dagang lain seperti Varion Coffee,” kata Harsono.
Hal ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa kopi dari Kabupaten Bondowoso semakin menarik perhatian pasar global.
Namun, tantangan tetap ada. Harsono mengungkapkan bahwa meski kualitas kopi semakin baik, petani masih bergantung pada pihak ketiga dalam pemasaran.
“Kami berharap pemerintah lebih aktif dalam membantu membuka akses pasar langsung bagi petani dan pengusaha kopi lokal,” harapnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya dukungan permodalan bagi petani. Menurutnya, peran perbankan dan BUMD harus lebih dioptimalkan agar petani memiliki akses modal yang lebih mudah.
Dengan luas lahan perkebunan kopi rakyat mencapai sekitar 8.000 hektare, Bondowoso memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai pusat produksi kopi berkualitas tinggi.
Penguatan merek BRK dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas pasar dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Harsono pun berharap agar pemerintah daerah kembali menggencarkan promosi BRK, serta memastikan seluruh petani mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Kopi Bondowoso sudah mendunia, tinggal bagaimana kita mempertahankan kualitas dan memperluas jangkauan pasar,” pungkasnya. (awi/ted)






