Surabaya (beritajatim.com) – Menjelang Bulan Suci Ramadhan, aktivitas orang meminta-minta di area makam di Surabaya mengalami peningkatan. Namun, menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, Dedik Irianto, fenomena ini tidak hanya terbatas pada pengemis, tetapi juga mencakup warga sekitar yang menawarkan jasa bersih-bersih makam.
“Warga sekitar makam umumnya mencari rezeki tambahan dengan berbagai cara, seperti menjual bunga tabur, membersihkan rumput, atau membantu membawa air. Mereka tidak memaksa, melainkan mengharapkan keikhlasan dari para peziarah,” jelas Dedik, Kamis (27/2/2025).
Meski ada orang yang meminta-minta, Dedik menegaskan mereka bukan pengemis dalam arti sebenarnya, karena tidak memaksa peziarah untuk memberi uang.
“Mereka hanya berharap keikhlasan dari pengunjung makam. Jika diberi, mereka berterima kasih. Jika tidak, mereka juga tidak memaksa,” tambahnya.
Dedik juga mengingatkan bahwa kelompok warga yang menawarkan jasa bersih-bersih makam bukan petugas resmi DLH. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati saat berziarah dan menjaga barang berharga mereka.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membawa barang berharga secara mencolok demi keamanan dan kenyamanan bersama,” ungkapnya.
Terkait meningkatnya aktivitas meminta-minta di area makam menjelang Ramadan, Dedik menyatakan bahwa kegiatan ini sebenarnya dilarang dalam Peraturan Daerah (Perda). Namun, DLH bukan pihak yang berwenang dalam penertiban.
“Jika diperlukan, kami akan berkoordinasi dengan Satpol PP, karena mereka yang memiliki kewenangan dalam menertibkan pengemis,” tutup Dedik. [ram/beq]






