Kediri (beritajatim.com) – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung rektorat, pada Rabu (26/2/2025).
Mereka menyampaikan sejumlah tuntutan terkait transparansi anggaran, pembenahan sistem akademik, serta kejelasan transisi IAIN Kediri menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membakar ban bekas dan membentangkan banner berisi berbagai tuntutan. Salah satu spanduk bertuliskan, “Kampus Tempat Pendidikan Bukan Sarang Predator Sex.”
Tuntutan Mahasiswa:
1. Transparansi penyesuaian efisiensi anggaran, terutama di bidang fasilitas kampus dan anggaran mahasiswa.
2. Pembenahan mekanisme BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an) dan PIBD (Praktik Ibadah).
3. Kejelasan transisi IAIN menuju UIN serta mendesak rektor untuk segera mengeluarkan SK tentang sanksi tegas terhadap pelaku pelecehan seksual.
4. Mahasiswa Soroti Transparansi Anggaran dan Sanksi Kekerasan Seksual
Koordinator lapangan, Ahmad Yusuf Muzakki, menegaskan bahwa mahasiswa tidak menolak efisiensi anggaran, namun mereka meminta adanya transparansi dalam kebijakan tersebut.
“Mahasiswa tidak menolak efisiensi anggaran, namun hanya meminta transparansi, penyesuaian, efisiensi anggaran terutama di bidang fasilitas kampus dan juga anggaran mahasiswa,” ujarnya.
Selain itu, mahasiswa juga mendesak agar pihak kampus segera memberikan sanksi tegas kepada oknum pelaku kekerasan seksual.
“Hari ini ternyata sudah ada, cuman memang publikasi dari kampus cukup minim sehingga kami cukup sulit untuk cari datanya juga,” tambah Ahmad Yusuf Muzakki.
Mahasiswa juga menyoroti mekanisme Kartu Indonesia Pintar (KIP-K) yang dinilai masih kacau.
“Salah satunya kewajiban teman-teman yang memang ikut KIP-K ini wajib mondok selama satu tahun. Dalam pondok-pondok ini sudah ada rekomendasi dari kampus dan memang tidak boleh di luar rekomendasi. Sehingga pada hari ini tuntutan kami di iya kan pada nantinya seluruh mahasiswa yang memang mendapatkan KIP-K ini bisa ke pondok manapun,” jelasnya.
Ahmad Yusuf Muzakki menilai bahwa demonstrasi kali ini cukup memuaskan karena pihak kampus menyetujui beberapa tuntutan mahasiswa.
“Demo kali ini dirasa sudah puas sebab pihak kampus meng-iya kan permintaannya karena memiliki tujuan yang sama atas kebaikan kampusnya,” ungkapnya.
Rektor IAIN Kediri Berikan Tanggapan
Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Wahidul Anam, menyatakan bahwa pihaknya menghormati aspirasi mahasiswa.
“Soal isu oknum pelaku kekerasan seksual yang masih mengajar hingga saat ini, semuanya kami layani dan kami berharap mahasiswa bisa juga menjadi mitra kami dalam mengawal. Ya tentunya kami masih menunggu informasinya, tentu kami sangat tegas untuk memberantas kekerasan seksual, seluruh civitas akademika IAIN Kediri itu berkomitmen bahwa kekerasan seksual harus dilawan,” tegas Wahidul Anam.
Bila terbukti bersalah, ia menegaskan akan memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
“Bisa jadi peringatan atau administrasi bila beliau bersalah,” tutupnya. [nm/ian]






