Surabaya (beritajatim.com) – Kepergian Bejo Sugiantoro meninggalkan luka mendalam bagi rekan-rekannya, terutama Uston Nawawi.
Sahabat seperjuangannya di lapangan hijau itu berpulang pada usia 48 tahun, meninggalkan jejak tak terlupakan di dunia sepak bola nasional.
Uston Nawawi mengenang Bejo sebagai sahabat sejati, seseorang yang telah menemaninya dalam perjalanan panjang sebagai pemain hingga pelatih.
“Ya, salah satu teman terbaik saya hari ini telah tiada. Kami semua berduka, tapi saya yakin Coach Bejo khusnul khotimah. Saya tahu rekam jejaknya, dari junior hingga senior, dia selalu membawa nama baik Persebaya dan Tim Nasional,” ujar Uston dengan suara bergetar, Rabu (26/2/2025).
Kabar kepergian Bejo mengejutkan banyak pihak, termasuk Uston. Selama ini, keduanya masih sering bertemu dalam berbagai kesempatan, bahkan masih aktif bermain fun football bersama.
“Saya benar-benar kaget. Sebelum latihan, saya dengar kabar kalau Coach Bejo nggak ada. Awalnya saya tidak percaya, makanya saya pastikan ke Bos Udin. Tadi sore kan masih ada fun game di SIER, ternyata benar, kami semua terkejut,” kenangnya.
Uston tak bisa menyembunyikan rasa kehilangan mendalamnya. Apalagi, menurutnya, Bejo masih tampak sehat dan bugar saat terakhir kali bertemu.

“Terakhir saya komunikasi itu pas main bola di GBT, waktu ada Rosita lawan Raka FC. Dia main full, nggak ada tanda-tanda apa-apa. Makanya saya benar-benar nggak menyangka. Umur manusia memang misteri, kita nggak pernah tahu kapan waktunya tiba,” ungkapnya lirih.
Bagi Uston, Bejo bukan hanya rekan setim, tetapi juga sosok inspiratif di dunia kepelatihan. Ia mengenal Bejo sebagai figur yang disiplin dan penuh semangat.
“Coach Bejo itu sangat disiplin, baik sebagai pemain maupun pelatih. Dia bek yang pantang menyerah, selalu fight di lapangan. Dia mengidolakan Herry Kiswanto, dan itu tercermin dalam gaya bermainnya. Pribadinya juga baik, dekat dengan semua orang,” tutur Uston.
Kenangan manis bersama Bejo tak akan pernah pudar, terutama saat mereka membawa Persebaya juara dua kali. “Momen yang paling berkesan tentu saat kami juara bersama Persebaya. Kami juga sama-sama belajar menjadi pelatih, dari EPA hingga akhirnya melatih tim senior. Banyak sekali perjalanan yang kami lalui bersama,” tambahnya.
Kabar duka ini meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar sepak bola Indonesia. Bejo Sugiantoro menghembuskan napas terakhir saat bermain fun football di Lapangan SIER Surabaya, Selasa (26/2/2025). Sosoknya yang penuh semangat dan dedikasi akan selalu dikenang dalam sejarah sepak bola nasional. Selamat jalan, Coach Bejo. (way/ted)






