Pacitan (Beritajatim.com) – Mengatasi masalah kesehatan pribadi kerap menjadi awal terciptanya solusi yang bermanfaat bagi orang lain. Hal ini dialami Maharani Shinta Yhaniarta, warga Dusun Tanjung, Desa Tanjungsari, Pacitan, yang berhasil meracik jamu tradisional bernama Macan Kerah, setelah berjuang menghadapi masalah kesehatan kewanitaan. Tak disangka, racikannya kini menjadi ladang rezeki. Jamu Macan Kerah buatannya kini sudah menjangkau pasar hingga ke luar kota.
Maharani memulai usahanya dua tahun lalu, terinspirasi dari pengalamannya saat tinggal di Kabupaten Malang. Kala itu, Ia kerap mengonsumsi obat-obatan medis untuk mengatasi masalah kesehatan. Namun, dorongan untuk mencari alternatif alami, membuatnya mencoba meramu jamu sendiri dari bahan-bahan tradisional.
“Ternyata, racikan jamu ini berhasil membuat badan saya lebih bugar,” kenang Maharani, ditulis Kamis (20/02/2025).
Melihat hasil positif tersebut, Ia mulai membagikan jamu buatannya kepada teman-teman yang memiliki keluhan serupa. Respon positif dari mereka pun menjadi titik awal lahirnya jamu Macan Kerah.
“Dari situ, teman-teman menyarankan saya untuk memproduksi jamu ini, agar bisa dinikmati lebih banyak orang,” ujarnya.
Bermodal dukungan orang terdekat, Maharani lantas merintis usaha dengan label Maharani Herbal. Di rumahnya yang terletak di Jalan Panglima Sudirman, kini terpampang papan nama usaha yang menandai awal kesuksesannya. Berbagai varian minuman herbal tertata rapi, namun Macan Kerah tetap menjadi produk andalan yang paling diminati.
Jamu ini diolah dari rempah-rempah alami yang dicuci bersih, dihaluskan menggunakan mesin khusus, lalu direbus selama 30 menit hingga mendidih. Setelah disaring dan didinginkan, jamu dikemas dalam botol plastik berisi 250 mililiter.
“Prosesnya kami jaga agar khasiatnya tetap maksimal,” jelas Ibu satu anak ini.
Dibanderol dengan harga terjangkau, yakni Rp10 ribu per botol kecil, Macan Kerah diklaim mampu meredakan nyeri haid, mengurangi bau badan tak sedap, menyuburkan kandungan, hingga bisa meningkatkan vitalitas pria. Salah satu pelanggan setianya, Dina Pratiwi, mengaku rutin mengonsumsi jamu ini selama setahun terakhir.
“Badan jadi lebih segar. Biasanya saya langsung beli lima sampai sepuluh botol sekaligus,” ungkap Dina.
Awalnya, pemasaran jamu ini hanya melalui mulut ke mulut di kalangan teman-teman terdekat. Namun, seiring waktu, Maharani mulai memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluas jangkauan pasar. Hasilnya, permintaan terus meningkat hingga ke luar daerah, seperti Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya.
“Awalnya saya ragu apakah jamu ini bisa diterima masyarakat luas. Tapi ternyata peminatnya terus bertambah,” katanya.
Berkat usahanya, Maharani kini mampu meraih omzet hingga Rp3 juta per bulan. Bagi ibu satu anak ini, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pengalaman pribadi yang diolah dengan tekad dan kreativitas dapat membuka peluang rezeki yang tak terduga. [end/but]






