Setelah bertahun-tahun tekor atau rugi, Perusahaan Umum Daerah Perkebunan Kahyangan milik Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, akhirnya surplus pada 2024.
“Sesuai RKA (Rencana Kerja Anggaran), kami surplus sekitar Rp 50 juta. Tahun 2025, kami coba naikkan jadi dua atau tiga kali lipat,” kata Direktur PDP Kahyangan Sofyan Sauri, ditulis Kamis (16/1/2025).
Kendati kecil nominalnya, surplus ini merupakan angin segar bagi manajemen Kahyangan dan Pemerintah Kabupaten Jember. Berdiri pada 1969, kondisi finansial Kahyangan memburuk sejak 2013.
Setelah berkontribusi Rp. 9,673 miliar untuk PAD Jember pada 2012, terjadi penurunan kontribusi menjadi Rp 6,966 miliar setahun kemudian. Penurunan tajam kontribusi untuk PAD kembali terjadi pada 2014 menjadi Rp 3,548 miliar.
Setelah itu, praktis Kahyangan tak menyumbangkan apapun untuk PAD Jember. Padahal sejak berdiri pada 1969 hingga 2014, Kahyangan tak pernah absen menyetorkan laba untuk PAD dengan nominal total kurang lebih Rp 100,044 miliar.
Justru selanjutnya, menurut Sofyan, perusahaan perkebunan tersebut selalu merugi, yakni Rp 2 milar pada 2020, Rp 1,4 miliar pada 2021, Rp 600 juta pada 2022, dan Rp 200 juta pada 2023.
Suntikan dana penyertaan modal kurang lebih Rp 83 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Jember diakui Sofyan sangat berpengaruh besar untuk menyehatkan Kahyangan secara bertahap. Dana tersebut digunakan untuk perbaikan kondisi kebun.
Sesuai Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2023 tentang Penyertaan Modal Pemkab Jember untuk PDP Kahyangan, penyertaan modal daerah itu digelontorkan secara bertahap, yakni masing-masing Rp 25 miliar, Rp 25 miliar, Rp 17,24 miliar, dan terakhir Rp 15,8 miliar. “Mudah-mudahan tahun ini kami mendapatkan PMD lagi agar bisa mengelola lebih leluasa,” kata Sofyan.
Harga komoditas karet dan kopi membantu Kahyangan dan mengalami surplus. “Kopi mengalami kenaikan harga luar biasa. Awalnya kami perkirakan Rp 30 ribu-50 ribu per kilogram, bisa mencapai Rp 93 ribu per kilogram,” kata Sofyan.
Kahyangan akan terus memperbaiki kondisi tanaman agar memperoleh surplus Rp 200 juta tahun ini. “Kami berkomitmen pada kontinyuitas perbaikan sumber daya manusia. Sumber daya manusia kita ini aset. Dua tahun kami berfokus ke sana. SDM kami perbaiki penataan dan pengelolaanya,” kata Sofyan.
Perjuangan memperbaiki kondisi Kahyangan memang tak mudah. Hal pertama yang dilakukan Sofyan setelah menjabat pada 2021 adalah memperbaiki sistem kerja perusahaan. Dia meminta salah satu kantor akuntan publik untuk melakukan audit forensik terhadap keuangan perusahaan pada 2022.
“Sebetulnya kami tidak ada niatan untuk itu. Tanggal 12 Januari 2022, ada audiensi antara perusahaan, pemerintah, dan perwakilan buruh. Ada tiga kesepakatan, yakni penyertaan modal, pemenuhan hak-hak buruh yang sampai saat ini kami upayakan, dan ketiga, audit investigasi,” kata Sofyan dalam sebuah wawancara dengan Beritajatim.com, 14 September 2024.
Dari hasil audit itu, ditemukan adanya sejumlah kebijakan manajemen masa lalu yang merugikan perusahaan berupa peraturan direksi pengadaan barang dan jasa, serta peraturan direksi tentang sumber daya manusia dan kepegawaian.
Hasil audit juga mengungkap adanya pengelolaan lahan PDP Kahyangan oleh pihak lain, termasuk karyawan, tanpa adanya kontrak. Lahan itu rata-rata ditanami tanaman semusim seperti jagung dan cabai.
Ada pula kerja sama penanaman sengon kurang lebih 50 hektare di Sumberwadung dan 20 hektare di Kalimrawan yang menyalahi kontrak. Mitra tidak memelihara tanaman sengon sesuai kontrak agar bisa dipanen pada 2026, namun justru menanam tanaman semusim yang hasilnya pun tak masuk ke kas perusahaan.
Rata-rata kerja sama dilakukan dengan karyawan Kahyangan sendiri. Temuan tersebut akhirnya ditindaklanjuti SPI (Satuan Pengawas Internal). Manajemen menertibkan semua kerja sama pengelolaan dengan menerbitkan kontrak, sehingga bisa berkontribusi kepada perusahaan. Setelah penertiban itu, kerja sama pengelolaan lahan yang tak dilanjutkan mencapai 200 hektare agar tak mengganggu program kerja direksi.
Sofyan juga berhasil menagih piutang uang pembelian 159 ton karet sebesar Rp 3,9 miliar dari PT Nanggala Mitra Lestari (NML) Surabaya secara mengangsur. “Alhamdulillah sudah lunas. Mereka ada itikad baik,” katanya.
Dari aspek kepegawaian, manajemen Kahyangan memangkas nama-nama fiktif yang tercantum dalam data penerima upah. Hasil verifikasi dan rasionalisasi pegawai ini membuat Kahyangan bisa bernapas sedikit lega, karena bisa mengefesiensikan anggaran gaji dari hampir Rp 3 miliar menjadi Rp 2,2 miliar per bulan.
Dengan semua upaya penyehatan itu, manajemen Kahyangan mulai menjalankan program dengan bertumpu pada komoditas andalan kopi dan karet untuk jangka panjang. Program jangka menengah manajemen adalah mengelola lahan tebu yang semula dikerjakan bersama sejumlah rekanan, kini mulai dikelola sendiri.
Sementara program jangka pendek manajemen adalah memastikan aliran uang tetap berputar melalui kerja sama dengan petani kopi rakyat untuk memenuhi kebutuhan pabrik pengolahan kopi Kahyangan. Ada empat skema kerja sama, yakni jasa olah kopi, off-taker kopi, jasa pembelian kopi merah gelondong, dan off-taker lembaga keuangan.
“Alhamdulillah, sejak kami menjabat pada 2021 akhir, kami bisa menekan angka kerugian,” kata Sofyan. [wir]






