Bondowoso, (beritajatim.com) – Usianya baru 11 tahun, tetapi Muhammad Dyo sudah mencuri perhatian di dunia balap motor.
Atlet muda asal Bondowoso ini dikenal memiliki bakat besar di arena road race, meneruskan jejak sang ayah, Hendra Widodo, yang merupakan mantan pembalap dan kini menjabat sebagai Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bondowoso.
Hendra menceritakan perjalanan Dyo dalam dunia balap yang dimulai sejak usia sangat muda.
“Dyo ikut balapan resmi sejak usia 4 tahun. Sebagai orang tua yang juga mantan pembalap, saya mulai melatihnya dari push bike untuk membangun mental dan skill balapnya,” ujar Hendra kepada BeritaJatim.com, Rabu (8/1/2025).
Pada 2017, saat baru berusia tiga tahun, Dyo mengukir prestasi internasional pertamanya di Malaysia dengan menjadi juara pertama dalam lomba push bike.
Namun, seiring waktu, Hendra mulai mengarahkan putranya ke dunia balap motor.
“Push bike hanya bisa dilakukan sampai usia 12 tahun. Jadi, saya mengenalkannya ke road race, karena peluangnya lebih besar,” jelas pria yang juga Kepala Desa Koncer Kidul, Kecamatan Tenggarang, Bondowoso ini.
Dyo mulai menapaki arena road race pada Mei 2024 dengan menggunakan Honda GTR 150cc. Saat itu, ia turun di kelas beginner yang diperuntukkan bagi atlet berusia maksimal 12 tahun.
Dalam debutnya di Bondowoso, Dyo menempati peringkat 9 dari 13 peserta. Namun, penampilannya terus meningkat. Pada September 2024, Dyo berhasil meraih peringkat lima dalam lomba road race di Banyuwangi.
Tak berhenti di situ, pada Oktober 2024, Hendra membawa Dyo ke Surabaya untuk mengikuti training camp (TC) sebagai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025.
“Sekarang, Dyo sedang menunggu arahan mentor di Surabaya untuk mengikuti pelatihan Honda Racing Skill di Jakarta. Persyaratan sudah kami kirim,” kata Hendra.
Hendra menekankan bahwa disiplin adalah kunci utama dalam mendidik Dyo. Setiap latihan, ia selalu mendampingi putranya. Selain itu, olahraga fisik menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan Dyo.
“Saya selalu menekankan pentingnya terus mengasah skill. Harapan saya, Dyo minimal bisa berjaya di level Asia, bahkan MotoGP seperti almarhum M. Zaki yang pernah tampil di Moto2,” ungkapnya.
Bagi Dyo, balapan bukan sekadar hobi, tetapi mimpi yang ingin ia wujudkan. Semangatnya untuk menjadi pembalap profesional, seperti sang ayah, terus membakar langkahnya.
Dengan dukungan penuh dari keluarga dan pelatih, masa depan cerah tampaknya menanti anak muda berbakat ini di lintasan balap. [awi/aje]






