Jember (beritajatim.com) – Persid tinggal menunggu pertandingan berakhir sepuluh menit lagi dalam waktu normal di kandang sendiri Stadion Jember Sport Garden, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (7/1/2025), untuk memetik kemenangan kedua, dalam lanjutan kompetisi sepak bola Grup C Liga 4 Zona Jawa Timur.
Namun Persipro 1954 punya ujung tombak seorang Kepala Unit Tindak Pidana Korupsi Kepolisian Resor Probolinggo Kota, Risdianto Prasetyo, yang tak hanya ahli mengungkap kejahatan, tapi juga piawai mencetak gol.
Pria yang berpangkat Inspektur Dua ini memaksakan hasil imbang 1-1 (0-0) pada menit 85 melalui sebuah tendangan kanon jarak jauh. “Saya sudah sering berlatih, Tendangan jarak jauh memang jadi bagian dari strategi tim ketika deadlock, untuk membongkar pertahanan lawan,” kata Risdianto.
Risdianto tak hanya menjadi ujung tombak andalan Persipro 1954. Dia juga kapten tim. “Saya habis apel minta izin berangkat ke komandan, dan malam ini harus sudah tiba di Probolinggo,” katanya usai pertandingan.
Gol Risdianto merupakan klimaks apik pertandingan dua tim yang berjalan terbuka dalam cuaca basah. Persid dan Persipro 1954 sama-sama tak berminat mempertebal tembok pertahanan dan lebih memilih saling serang. Risdianto pada babak pertama hampir membuka rekening gol dari jarak jauh. “Namun kami akui pertahanan Persid solid,” katanya.
Setelah sejumlah peluang gagal dicatatkan di papan skor, gelandang Persid Ahmad Dedi akhirnya sukses mencetak gol dari tendangan bebas langsung ke gawang Tranggono Beno pada menit 80. Wasit Farid Riesdianto memberikan hukuman tendangan bebas di sisi kanan pertahanan Persipro, setelah pemain bertahan Persid Moh. Hunaifi Azizi Hidayatullah dilanggar.
Namun kegembiraan suporter tuan rumah tak bertahan lama. Hujan deras yang mengguyur pada pertengahan babak kedua membuat air menggenangi lapangan. Bola operan pendek Ahmad Sahid Siddiq yang ingin membangun serangan dari belakang terhenti oleh genangan itu, dan langsung dimanfaatkan Risdianto pada menit 85 dengan sebuah tendangan jarak jauh.
Asisten pelatih Persid Achmad Jainuri terpaku melihat gol balasan tersebut. “Itu gol hadiah dari kesalahan pemain kami,” katanya.
“Tapi mau bagaimana lagi? Kami sudah berupaya yang terbaik. Cuaca memang tidak mendukung. Anak-anak sudah menunjukkan performa yang lebih bagus daripada saat melawan Persekap Pasuruan sebelumnya,” katanya.
Tak ada yang diuntungkan dengan sebuah pertandingan sepak bola di bawah guyuran hujan deras. Para pemain kedua tim sama-sama kelelahan, karena susah untuk menggiring bola dan menendangnya dengan akurat. “Cuaca seperti ini mengharuskan pemain pintar menguasai keadaan dalam lapangan,” kata Jainuri.
Kelelahan membuat gelandang tengah Persipro Rivqo Saiful Islam kolaps dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Selain itu beberapa kali pemain kedua tim juga terkapar karena otot tertarik.
Taktik operan pendek Persid juga tak berjalan maksimal, karena laju bola tertahan air. Pemain juga mudah terpeset. Sementara Persipro lebih cerdik dengan mengandalkan operan-operan panjang ke depan dan menampik bertarung jarak dekat dengan Persid. “Mereka sudah membaca permainan kami saat melawan Pasuruan,” kata Jainuri.
Persid sebenarnya sudah mengantisipasi taktik bola panjang Persipro. Ini terlihat dari susahnya para penyerang Persipro membobol gawang Guntur Egi Saputro.
Hasil imbang ini membuat Risdianto semringah. “Tim tuan rumah sebenarnya lebih siap. Namun secara keseluruhan, kami sudah melaksanakan strategi pelatih. Rekan-rekan tidak mau kalah dari tuan rumah. Alhamdulillan, kami bisa menyamakan kedudukan,” katanya.
Dengan hasil imbang ini, Persid dan Persipro sama-sama memperoleh empat angka. Namun Persid berada di peringkat pertama dan Persipro di peringkat kedua, karena Persid memiliki selisih gol lebih baik (5-1) dibandingkan Persipro (2-1). [wir]






