Lumajang (beritajatim.com) – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tengah melanda Kabupaten Lumajang dan menyebabkan kerugian yang signifikan bagi para peternak, Selasa (7/01/2025)
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang, hingga awal tahun 2025, lebih dari 900 ekor sapi terjangkit PMK dan sekitar 70 ekor di antaranya dilaporkan mati.
Menanggapi situasi darurat ini, pemerintah Kabupaten Lumajang melalui DKPP telah mengambil langkah-langkah intensif untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Beberapa upaya yang dilakukan antara lain inspeksi mendadak di pasar hewan, pemeriksaan kesehatan ternak secara rutin, penyemprotan disinfektan pada kandang, serta pemberian vaksinasi kepada ternak.
Kepala DKPP Kabupaten Lumajang, Retno Wulan Andari, menekankan pentingnya peran peternak dalam upaya pengendalian wabah ini.
“Peternak harus proaktif menjaga kebersihan kandang, membatasi pergerakan ternak, dan segera melaporkan jika ada hewan ternak yang menunjukkan gejala PMK seperti luka di mulut atau kuku,” ujarnya.
Selain itu, DKPP juga gencar melakukan penyuluhan kepada masyarakat, terutama di wilayah yang menjadi pusat penyebaran PMK seperti Klakah, Pasrujambe, Kunir, dan Senduro. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan ternak.
Retno optimistis bahwa dengan upaya bersama antara pemerintah, peternak, dan masyarakat, wabah PMK di Lumajang dapat segera teratasi. “Keberlanjutan sektor peternakan sangat penting bagi ketahanan pangan kita. Oleh karena itu, kita harus bekerja sama untuk mengatasi masalah ini,” tegasnya. (ted)






