Populasi sapi di Jawa Timur (Jatim) terbesar di Indonesia. Data 2023 menunjukkan jumlah populasi sapi di provinsi ini mencapai 5,07 juta ekor, memberikan kontribusi kebutuhan daging sapi nasional sekitar 28 persen.
Sejak pertengahan Desember 2024, di sejumlah kabupaten di Jatim terindikasi muncul Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi pedaging. Di Kabupaten Ngawi dan Jember, PMK telah terdeteksi. Tak kurang ada 25 ekor sapi mati akibat penyakit ini di Jember. Sedangkan di Ngawi ada sebanyak 35 ekor sapi mati. Jumlah sapi terdeteksi terserang PMK sebanyak 125 ekor.
Jika wabah ini terus meluas tanpa penanganan cepat, dampaknya akan semakin parah. Kita tidak hanya bicara soal ekonomi, tetapi juga ketahanan pangan di Jatim. Maklum, sapi milik peternak yang dikembangbiakkan secara personal–mayoritas pola peternakan sapi oleh petani–bakal menghadapi masalah serius ketika wabah PMK tak tertangani dengan baik.
Provinsi Jatim menjadi sentra ternak sapi potong terbesar di Indonesia. Pada 2023, populasi sapi potong Jatim sebanyak 5,07 juta ekor. Jumlah populasi sapi itu mengalami peningkatan dibandingkan empat tahun sebelumnya. Di 2019, jumlah sapi potong di Jatim mencapai 4,7 juta ekor, 2020 dengan 4,82 juta ekor, 2021 dengan 4,9 juta ekor, dan 2022 dengan 4,922 juta ekor.
Pertumbuhan populasi sapi potong di Jatim tak mungkin dilepaskan dari peran aktif banyak pihak. Termasuk pula penerapan teknologi peternakan sapi dengan bantuan saintifik. Jatim terus mengembangkan inovasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas budi daya sapi. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah teknologi artificial insemination (inseminasi buatan) dan embrio transfer. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan angka kelahiran sapi dengan cepat, teratur, dan memperbaiki kualitas sapi.
Data yang ada menyebutkan, pada 2023, Jatim menyumbang 52 persen kelahiran sapi ternak nasional. Angka kelahiran sapi yang tinggi ini diharapkan dapat mempertahankan status Jatim sebagai gudang ternak nasional dan mendukung target swasembada daging di Indonesia.
Tingginya populasi sapi di Jatim tak lepas dari luasnya lahan pertanian, baik teknis, semi teknis, dan tadah hujan di Jatim. Sehingga provinsi ini menjadi sentra pangan nasional, terutama untuk beras dan jagung. Relasi aktivitas pertanian dengan peternakan sapi potong sangat dekat dan saling menunjang.
Hasil samping dari pertanian, terutama rerumputan, bisa dipakai sebagai menu utama konsumsi sapi potong. Tentu saja, dalam konteks sekarang, menu pakan sapi telah mengalami perkembangan inovasi luar biasa, sehingga pakan itu mengandung nutrisi, vitamin, dan protein tinggi untuk menunjang pertumbuhan sapi potong.
Ada sejumlah kabupaten di Jatim yang memiliki populasi sapi tinggi. Di antaranya Kabupaten Sumenep dengan 381.104 ekor, Tuban dengan 345.571 ekor, Probolinggo dengan 312.361 ekor, Bojonegoro dengan 274.253 ekor, Sampang dengan 246.735 ekor, Jember dengan 273.943 ekor, Malang dengan 246.438 ekor, Kediri dengan 234.431 ekor, Bondowoso dengan 232.659 ekor, dan Lumajang dengan 222.982 ekor.
Sekalipun PMK merupakan penyakit tahunan yang seringkali menyerang ternak sapi potong di masa pancaroba, dari musim kemarau ke musim penghujan, wabah penyakit ini tak bisa disepelekan. Wabah ini nyaris muncul tiap tahum dan mengakibatkan kematian sapi-sapi milik peternak. Itu artinya, belum ditemukan obat yang paten untuk menghilangkan serangan PMK atas populasi sapi.
Pemprov Jatim telah mendistribusikan sebanyak 1 juta dosis vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) dan 250 ribu dosis vaksin lumpy skin disease (LSD) pada semester pertama 2024. Harapannya, vaksin ini mampu mempercepat mempercepat pengendalian PMK dan LSD di wilayah provinsi ini.
Berdasar laporan sistem informasi kesehatan hewan Indonesia yang mutakhir, hingga 5 Maret 2024, realisasi vaksinasi Jawa Timur sebanyak 11,3 juta dosis atau berkontribusi 42 persen dari total vaksinasi PMK di Indonesia.

Wabah PMK bisa menjadi ancaman serius bagi harapan swasembada pangan nasional, terutama terkait ketersediaan daging sapi potong, untuk menunjang program makan bergizi gratis Presiden Prabowo Subianto. Program ini tak sekadar membutuhkan beras dan sayur-mayur. Tak kalah penting dari itu adalah ketersediaan daging sapi potong, telur ayam, dan daging ayam secara memadai dan berkelanjutan.
Sekadar contoh bahwa serangan wabah PMK yang tak tertangani dengan dengan cepat dan tepat bisa berakibat merosotnya jumlah populasi sapi di satu daerah. Pada 2023 hingga awal 2024, populasi sapi potong di Kabupaten Magetan, Jatim mengalami kerosotan luar biasa. Sebelum wabah PMK menyerang, populasi sapi di daerah ini sekitar 100 ribu ekor. Pasca wabah PMK, sapi populasi sapi potong tinggal 68 ribu.
“Tahun 2023 kemarin dari populasi kita 100 ribu lebih ekor sapi, dari pendataan dan sensus, sapi kita tinggal 68 ribu ekor. Itu sudah sapi potong dan sapi perah dengan jumlah sapi perah hampir 1.000 ekor,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, Nur Haryani pada akhir bulan Juli 2024.
Belum ada data yang dipublikasikan dari otoritas terkait tentang jumlah sapi potong sapi mati di Jatim akibat wabah PMK sepanjang 2024. Membuka data seperti itu ke ruang publik itu penting dilakukan sebagai bentuk transparansi, prudent, dan kewaspadaan atas wabah PMK. Sehingga semua stakeholder mampu mengantisipasi wabah PMK sejak dini, cepat, tepat, dan hasilnya maksimal.
Wabah PMK tak sekadar merugikan peternak, kelompok sosial dengan kapasitas ekonomi menengah ke bawah, tapi bisa menghambat dan memporak-porandakan policy prioritas Presiden Prabowo: Program makan siang gratis bergizi untuk anak-anak Indonesia.
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com.






