Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah berencana membangun tanggul laut raksasa yang akan membentang dari Jakarta hingga Gresik. Hal ini untuk mengatasi ancaman kenaikan air laut di pesisir utara Jawa.
Menanggapi itu, Akademisi Universitas Airlangga (Unair) Sapto Andriyono menilai bahwa proyek ini berpotensi menimbulkan dampak ekologis di wilayah tersebut.
Menurut Sapto, perubahan pola garis pantai akibat tanggul dapat mempengaruhi pergerakan arus dan gelombang laut, yang dapat menyebabkan peningkatan sedimentasi di beberapa area dan abrasi di lainnya.
Sapto, yang merupakan Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair itu menyebut bahwa hal ini berisiko mengubah kondisi geografis wilayah pesisir utara Jawa.
“Perlu diperhatikan dampak ekologi dimana perbedaan karakteristik geografis ini dapat menyebabkan sedimentasi di satu wilayah, namun menyebabkan adanya abrasi di wilayah lain,” kata Sapto, Selasa (17/12/2024).
Dalam aspek teknis, Sapto menekankan pentingnya memperhatikan titik-titik rawan banjir rob dan naiknya air laut, terutama pada musim hujan.
Ia mengusulkan penerapan solusi seperti yang digunakan di Belanda dan Venesia, yang memanfaatkan kanal-kanal untuk menyalurkan air dan tanggul laut untuk mengatasi kenaikan volume air.
“Mereka sudah menerapkan kanal-kanal yang digunakan untuk menyalurkan peningkatan volume air yang meningkat di samping penggunaan tanggul laut dalam mengatasi kenaikan air laut dan air hujan,” ungkapnya.
Selain itu, Sapto juga mengingatkan agar proyek ini melibatkan tenaga kerja lokal untuk mendukung perekonomian masyarakat setempat, bukan kontraktor asing.
Menurut Sapto, pembangunan tanggul laut juga diperkirakan berdampak pada usaha perikanan, terutama tambak-tambak yang ada di pesisir. Pondasi tanggul yang dalam dapat memicu intrusi air laut, yang mengubah salinitas air dan mengancam kelangsungan budidaya.
Sebagai solusi, Sapto mengusulkan penggunaan kanal-kanal untuk mengalirkan air tawar dari sungai ke kolam budidaya. “Keberadaan kanal-kanal ini dapat mengalirkan air tawar dari sungai menuju kolam-kolam budidaya,” ungkapnya.
Sebagai alternatif, Sapto juga mengusulkan pemecah gelombang berbentuk armor yang dapat meredam energi gelombang dan mengurangi potensi abrasi serta kenaikan air laut.
Ia menambahkan, pembangunan tanggul laut sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik geografis setiap daerah di pesisir utara Jawa. Pada beberapa daerah dapat digunakan tanggul fisik, dan beberapa daerah dapat menggunakan pemecah gelombang laut. [ipl/suf]






