Blitar (beritajatim.com) – Belakangan ini di wilayah Blitar marak kasus remaja putri mengirimkan foto menggoda hingga menjurus ke asusila kepada sang pacar. Bahkan, dalam beberapa kasus para remaja putri ini dengan santainya mengirimkan foto atau video asusilanya kepada sang pacar yang baru saja dikenal melalui media sosial.
Hal itu pun seolah dianggap wajar atau lazim oleh sebagian remaja putri di wilayah Blitar. Tentu kondisi tersebut cukup memprihatinkan, pasalnya tak sedikit remaja putri yang menjadi korban tindak asusila atau pengancaman usai dirinya mengirimkan foto atau video vulgarnya kepada sang pacar.
Psikolog Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo, Yeni Rofiqoh menyebut bahwa anak zaman sekarang memiliki kepercayaan yang lebih tinggi dengan orang-orang yang baru dikenalnya di media sosial. Sehingga hal itu membuat para remaja putri tersebut tidak segan untuk mengirimkan foto seksi dirinya kepada orang yang baru dikenalnya di media sosial.
“Karena masih remaja mungkin mereka belum punya analisa pertimbangan yang dalam,” ucap Yeni, Kamis (12/12/2024).
Kurangnya pengawasan orang tua menjadi penyebab remaja putri ini begitu leluasa dengan dunia media sosialnya. Selain itu kurangnya figur ayah juga membuat remaja putri di Blitar jadi lebih mudah nyaman dengan pria yang baru saja dikenalnya melalui media sosial.
“Begitu mendapatkan keasyikan, begitu merasa diterima, merasa dapat teman dekat jadi mereka akan berfikir ngapa-ngapain aja tidak apa-apa tidak antisipasi kalau oh iya ya aku belum kenal cukup lama nih, by chat aja belum pernah ketemu orangnya seperti apa. Jadi mereka santai saja tanpa berpikir panjang,” jelasnya.
Secara spesifik, menurut psikolog wanita atau perempuan yang biasanya terperangkap dalam kasus ini adalah mereka yang kurang mendapatkan figur ayah. Sehingga para remaja putri ini mencoba mencari kenyamanan dari pria yang dianggapnya asyik di media sosial.
“Hanya biasanya cewek yang mudah terperangkap kasus ini memang kurang mendapatkan figur ayah atau laki-laki yang memadai,” tegasnya.
Dalam beberapa kasus para remaja yang telah terperangkap di dunia media sosial, biasanya akan rela melakukan apapun demi cowok yang baru dikenalnya. Alasannya berbagai macam mulai dari takut ditinggal hingga merasa sudah terlanjur nyaman dengan cowok tersebut.
“Terlalu percaya, takut ditinggal, merasa sudah klik banget,” tutupnya.
Kehadiran orang sangat diperlukan dalam kasus seperti ini. Utamanya adalah sosok ayah yang seharusnya bisa menjadi teman dekat bahkan sahabat untuk tempat curhat sang anak. Sehingga anaknya (remaja putri) tidak mencari kenyamanan lain yang berujung pada hal negatif. [owi/beq]






