Sidoarjo (beritajatim.com) – Krisis air bersih di Desa Kedung Pandan, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, menjadi perhatian utama dalam kegiatan pengabdian masyarakat internasional yang melibatkan dosen dan mahasiswa Petra Christian University (UK Petra) Surabaya bersama Josai International University, Jepang.
Lewat program Service Learning, proyek ini menawarkan solusi nyata melalui penerapan teknologi inovatif hasil riset kampus, menjawab tantangan besar yang dihadapi masyarakat setempat selama puluhan tahun.
Krisis Air Payau di Desa Kedung Pandan
Desa Kedung Pandan dikenal sebagai kawasan potensial untuk industri maritim, seperti budidaya ikan bandeng, udang, dan rumput laut.
Namun, desa ini juga menghadapi kendala besar akibat perubahan iklim, yaitu krisis air bersih. Selama ini, warga hanya bergantung pada air payau berkualitas rendah yang tidak layak konsumsi.
Menurut survei, wilayah RT 13 RW 05 dihuni oleh 67 kepala keluarga dengan total populasi 167 jiwa. Mayoritas warga berprofesi sebagai buruh tambak, sementara tingkat pendidikan sebagian besar penduduk hanya sampai SMP (45%).
Kendala utama adalah akses terhadap air bersih, yang memaksa warga membeli air isi ulang dari daerah lain untuk kebutuhan minum.

Teknologi ALPAMAL: Solusi Inovatif untuk Air Bersih
Program ini merupakan implementasi hasil riset unggulan UK Petra melalui alat pemurni air payau berbasis material lokal, yang telah mengantongi tiga paten, yaitu:
ALPAMAL (Alat Pemurni Air Payau dengan Material Lokal).
Alat Pemurni Air Payau Portabel dengan energi mandiri.
Alat Monitoring Kualitas Air Bersih dari air payau.
Ketiga teknologi ini dirancang untuk mengubah air payau menjadi air bersih yang aman digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti mencuci, memasak, dan mandi.

Kolaborasi Multidisiplin dan Internasional
Program ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.
Dari UK Petra, dosen Teknik Sipil dan Arsitektur, Business Manajemen, Finance & Investment Program seperti Dr Surya Hermawan, Dr. Dhyah Harjanti, dan Prof Njo Anastasia berkolaborasi dengan Fakultas English for Business beserta kurang lebih 49 orang Mahasiswa.
Sedangkan Josai International University mengirimkan Profesor Yuka Kawano beserta empat mahasiswa.
Pendekatan lintas budaya ini memperkaya pengalaman akademik dan membangun kapasitas mahasiswa untuk menghadapi tantangan global.
Metode Service Learning yang Berkelanjutan
Kegiatan diawali dengan survei kebutuhan masyarakat dan evaluasi program sebelumnya, dilanjutkan dengan instalasi alat pemurni, pengujian kualitas air di laboratorium, hingga pengecatan fasilitas. Pada 13 September 2024, kegiatan ini diresmikan oleh Ketua Program Studi Teknik Sipil UK Petra Wong Foek Tjong, Ph.D.
Hasilnya? Air olahan ALPAMAL kini dapat langsung digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari tanpa rasa asin atau lengket.
“Meski demikian, teknologi ini belum menjangkau seluruh warga, dan beberapa penduduk masih enggan menggunakannya untuk air minum,” ungkap Dr Surya Hermawan.
Dampak Positif dan Harapan Masa Depan
Program pengabdian masyarakat ini tidak hanya memberikan solusi teknis bagi warga, tetapi juga memperkuat peran pendidikan tinggi dalam mendukung agenda Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Sustainable Development Goals (SDGs).
Dukungan dari DIKTI No. 03/SP2H/PKM/LPPM-UKP/2024, LPDP No: 026/E5/PG.02.00/PRPB.INKLUSIVITAS/2024, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas English for Business UK Petra dan Josai International University menjadi katalisator untuk menciptakan dampak lebih luas.
Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan, UK Petra dan Josai International University berharap teknologi ini dapat diterapkan di daerah-daerah lain yang menghadapi tantangan serupa, menuju masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan. (ted)






