Surabaya (beritajatim.com) – Paul Munster, pelatih Persebaya Surabaya, kembali meluapkan kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit yang membuatnya menerima kartu kuning dalam pertandingan terbaru. Akibat kartu kuning tersebut, Munster terancam absen dari bench saat Persebaya menghadapi rival beratnya, Arema FC, di laga berikutnya.
Insiden bermula ketika Munster mempertanyakan keputusan wasit Gideon Dapaherang yang memberikan pelanggaran kepada Malik Risaldi. Saat mengajukan pertanyaan dalam bahasa Indonesia, Munster justru diganjar kartu kuning, yang memicu emosinya.
“Sangat bodoh itu tadi. Saya hanya bertanya, mengapa pelanggaran diberikan kepada Malik? Saya bertanya dalam bahasa Indonesia, dan wasit langsung memberi kartu kuning. Dia bahkan tidak menjawab, hanya menunjukkan ekspresi keras,” ucap pelatih asal Irlandia Utara ini.
Munster menegaskan bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan wasit yang profesional, tegas, dan mampu menjawab pertanyaan secara lugas saat di lapangan.
“Saya merasa ini bukan pelanggaran. Sepak bola Indonesia membutuhkan wasit profesional yang bisa menangani tekanan dan memberikan penjelasan yang jelas kepada pemain atau pelatih,” lanjut Munster.
Dengan kartu kuning ini, pelatih berusia 42 tahun tersebut harus absen mendampingi timnya di laga Derby Jawa Timur melawan Arema FC. Namun, Munster berencana mengajukan banding dan sudah berdiskusi dengan manajemen Persebaya untuk memperjuangkan keadilan atas insiden ini.
“Keputusan ini tidak adil. Saya akan banding karena ini adalah kartu kuning terbodoh yang pernah saya terima dalam karier saya,” pungkas Munster.
Laga melawan Arema FC akan menjadi tantangan besar bagi Persebaya, terlebih tanpa kehadiran Munster di sisi lapangan. Derby ini tidak hanya mempertaruhkan tiga poin, tetapi juga gengsi besar sebagai duel panas dua tim terbaik Jawa Timur. [way/beq]






