Kini kita memahami kenapa Paul Munster dibayar mahal untuk melatih Persebaya Surabaya. Kemenangan 2-1 atas Persija Jakarta di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (22/11/2024), menunjukkan kepiawaian pelatih asal Irlandia Utara itu dalam mengatur taktik.
Persebaya tampil buruk di hadapan 27.190 orang penonton pada babak pertama. Tak ada satu pun serangan yang tepat sasaran. Bola demi bola yang dibidik ke gawang Andritany melesat ke arah langit. Sementara itu, Marco Simic dan Gustavo berkali-kali membuat jantung Bonek serasa rontok.
Menit 38, kepanikan demi kepanikan membuat kiper Andhika Ramadhani mengganjal Gustavo Almeida dan berbuah hukuman penalti dari wasit Muhammad Tri Santoso setelah berdiskusi dengan wasit VAR. Lima menit kemudian Gustavo berhasil mengeksekusi bola dari titik putih.
Persebaya hanya punya waktu normal 45 menit babak kedua untuk mencetak gol dan merebut tiga angka di kandang sendiri. Tak ada cerita musim ini Persebaya kalah di rumah sendiri. Tidak juga dari lawan klasik Persija.
Tak ada jalan lain bagi Munster kecuali memanfaatkan pemain-pemain di bangku cadangan untuk mengubah situasi. Dan ini yang membedakan seorang pelatih profesional dengan fans amatiran seperti saya yang berlagak menjadi pakar taktik dari game Football Manager.
Saat saya bisa dengan mudah me-restart game jika tim yang saya latih kalah, seorang pelatih sepak bola profesional seperti Munster tak memiliki banyak waktu untuk memilih sekian opsi. Dia berada di bawah tekanan, di bawah sorotan banyak orang, termasuk manajemen klub yang bisa sewaktu-waktu memecatnya sebagaimana dialami pelatih-pelatih Persebaya sebelumnya.
Opsi-opsi itu pun hadir dari keterbatasan. Tak semua pemain Persebaya berstatus ‘supersub’. Munster juga tahu, tak semua pemainnya siap untuk pertandingan sebesar melawan Persija. Dan tentu saja, dia juga harus memastikan untuk memasukkan pemain dari bangku cadangan di waktu yang tepat dan tak salah mengganti pemain.
Belajar dari Atne Slot di Liverpool, pergantian pemain tak hanya memperhitungkan taktik pada saat pertandingan tersebut. Lebih dari itu, ia juga memperhitungkan kebutuhan pada pertandingan selanjutnya karena kompetisi diibaratkan lari maraton, bukan adu sprint.
Paul Munster menggantikan Andre Oktaviansyah dengan gelandang bertahan asal Palestina, Mohammed Rashid, pada menit 55. Andre membuat kesalahan yang nyaris berbuah gol pada menit 49, saat bola yang seharusnya segera dibuang dari kotak penalti Persebaya justru berhasil dicuri Marciej Gajos. Beruntung Simic gagal memanfaatkan bola yang dioperkan pemain asal Polandia tersebut.
Munster juga mengganti Mikael Tata dengan Ardi Idrus pada menit 55, Kasim Botan dengan Rizky Dwi pada menit 64 dan Gilson Costa dengan Oktafianus Fernando pada menit 65.
Ardi Idrus dan Rashid menjadi bagian dari skema tembakan tepat sasaran pertama Flavio pada menit 63. Empat menit kemudian, Flavio benar-benar mencetak gol melalui tendangan keras setelah terjadi kekacauan di dalam kotak penalti Persija.
Masuknya darah baru dari bangku cadangan membuat Bruno Moreira semakin bebas mengacak-acak pertahanan Persija.
Ardi Idrus pula yang menjadi awal dari kekacauan di kotak penalti Persija, setelah menerima bola tendangan pojok dari Rivera. Idrus menendang keras bola ke arah gawang Andritany yang mengawali terjadinya bola pantul yang susah dibaca pemain belakang Persija. Kemelut ini diakhiri Rashid dengan tendangan keras yang membuat bola masuk ke gawang Persija pada menit 72.
Kemenangan atas Persija ini menempatkan Persebaya di puncak klasemen sementara pekan ke-11 Liga 1 musim 2024-25. Kemenangan yang diraih karena pergantian pemain yang tepat ini mengingatkan kita pada beberapa pertandingan sebelumnya.
Kemenangan 1-0 atas PSS Sleman pada pekan pertama tak lepas dari masuknya Kasim Botan menggantikan Alfan Suaib pada menit 46. Pelanggaran terhadao Botan di kotak penalti menjadi biang terjadinya gol Bruno Moreira pada menit 78.
Posisi Botan sebagai supersub terulang saat melawan Barito Putra di pekan ketiga, Munster memasukkan Kasim Botan menggantikan Alfan Suaib pada menit 59. Kasim memberikan operan berbuah gol kemenangan 2-1 kepada Mohammed Rashid pada menit 90+5.
Pekan berikutnya, Bajul Ijo akan bertandang ke kandang Madura United yang saat ini menduduki peringkat 17 alias berada dalam zona degradasi.
Sejauh ini, Madura United baru sekali mengemas kemenangan, yakni atas PSIS Semarang. Kendati pertahanan mereka sangat rapuh (kebobolan 24 gol, terbanyak hingga pekan 11), namun lini serang Madura United lebih tajam (12 gol berbanding 11 gol milik Persebaya). [wir]







2 Komentar
Selamat Paul…. Congrats!!!
Sing nendang duduk ardi idrus cak, tapi bruno sblm bola pantul nang rashid