Ponorogo (beritajatim.com) – Debat publik ketiga sekaligus terakhir dalam rangka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Kabupaten Ponorogo sukses digelar pada Rabu (20/11) malam. Acara berlangsung lancar dan kondusif meski sempat diwarnai ketegangan antara kelompok pendukung salah satu pasangan calon (paslon) dengan moderator saat jeda acara. Ketegangan tersebut berhasil diredam oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ponorogo, R. Gaguk Ika Prayitna.
“Alhamdulillah, debat pamungkas berjalan dengan baik, lancar, dan seru,” kata Gaguk, ditulis Kamis (21/11/2024).
Gaguk menjelaskan bahwa insiden kecil tersebut merupakan hal wajar dalam suasana Pilkada yang penuh semangat. Ia menegaskan bahwa debat publik adalah fasilitas yang disediakan KPU Ponorogo untuk membantu masyarakat memahami visi, misi, dan program kerja para paslon.
Ia juga menambahkan bahwa pihak KPU dapat meniadakan kehadiran pendukung di dalam ruangan debat jika terjadi pelanggaran aturan.
“Kalau ada ketegangan, itu hal biasa, seperti teriakan pendukung. Tapi secara keseluruhan, debat berjalan baik. Kedua paslon juga berhasil menyampaikan gagasan mereka kepada masyarakat,” kata Gaguk.
Pada debat kali ini, kedua paslon kembali memaparkan visi dan misi mereka untuk membawa Ponorogo ke arah yang lebih baik. Calon bupati nomor urut 1, Ipong Muchlissoni menekankan pentingnya mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah pusat. Ia berkomitmen untuk meningkatkan produksi lokal, seperti padi, ayam, sapi, dan susu, guna memperkuat sektor pangan di Ponorogo.
“Kami akan menyambut program ketahanan pangan nasional dengan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi pangan di daerah,” jelas Ipong.
Sementara itu, calon bupati nomor urut 2, Sugiri Sancoko mengapresiasi pelaksanaan debat publik yang berjalan lancar. Ia mengungkapkan dalam perjalanan pemerintahannya selama 3,5 tahun terakhir. Meski banyak capaian, Sugiri mengakui bahwa belum semua ekspektasi publik dapat terpenuhi karena berbagai kendala, seperti keterbatasan fiskal dan banyaknya pekerjaan rumah (PR).
“Kami mohon maaf kepada masyarakat yang mungkin merasa belum puas. Namun, jika diberi amanah lagi, kami berkomitmen untuk terus membangun Ponorogo yang lebih bermartabat,” ungkap Sugiri.
Debat publik pamungkas ini menjadi kesempatan terakhir bagi para paslon untuk meyakinkan masyarakat. Dengan rekam jejak dan visi masing-masing, masyarakat Ponorogo kini dihadapkan pada pilihan terbaik untuk menentukan pemimpin mereka dalam lima tahun ke depan. [end/aje]






