Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Ciputra (UC) Surabaya kembali melaksanakan kegiatan UC Sportpreneur, kali ini untuk batch ke-6 yang digelar di Ruang Tech Space, Lantai 7 UC Main Building.
Program yang dirancang khusus untuk membantu para atlet mempersiapkan masa pensiun ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Muhammad Nabil, Ketua Umum KONI Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Nabil menekankan pentingnya mempersiapkan masa depan atlet, yang seringkali berakhir pada usia yang masih tergolong produktif, antara 28 hingga 35 tahun.
“Pada usia tersebut, atlet sudah tidak dapat berkarir sebagai atlet lagi, sehingga perlu adanya pembekalan entrepreneurship agar mereka tetap dapat hidup layak,” ujarnya, Selasa (12/11/2024).
Nabil juga menambahkan bahwa pengorbanan besar yang diberikan oleh atlet selama masa latihan harus diapresiasi dengan cara yang lebih signifikan, termasuk mempersiapkan mereka untuk hidup setelah pensiun.
Program UC Sportpreneur yang telah berlangsung sejak 2021 ini untuk membekali atlet dengan keterampilan kewirausahaan, sehingga mereka dapat mengelola pendapatan yang diperoleh selama berkarir untuk membuka usaha yang dapat menopang kehidupan mereka setelah pensiun.
Wakil Rektor I UC Surabaya Prof Whidya Utami menyebut, kurikulum UC Sportpreneur telah disiapkan dengan seksama, dan mempertimbangkan latar belakang peserta yang umumnya awam dalam dunia bisnis.
“Kami juga menyediakan mentor untuk mendampingi setiap peserta, serta mengajak mereka untuk belajar langsung dari pelaku bisnis yang sudah sukses,” tambah Utami.
Ia mengatakan, setiap batch dalam program ini terdiri dari 12 hingga 16 pertemuan, yang berlangsung sekitar dua bulan. Program ini dibagi menjadi dua kelas, yakni Start Up untuk peserta yang baru pertama kali mengikuti program, dan Skill Up untuk peserta yang sudah mengikuti batch sebelumnya dan telah memiliki usaha.
Sementara itu, Ketua Pelaksana UC Sportpreneur Yoseva Maria Pujirahayu Sumaji menjelaskan bahwa batch ke-6 ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang terbagi dalam kedua kelas tersebut.
“Pada batch ini, kami membuka kelas Skill Up untuk membantu peserta yang sudah menjalankan usaha agar dapat meningkatkan performa bisnis mereka,” ujar Yoseva.
Meskipun terdapat tantangan dalam kesesuaian jadwal latihan dengan pembelajaran, program ini diselenggarakan secara hybrid untuk mempermudah partisipasi para atlet.
Pada acara ini, beberapa mantan atlet yang kini sukses berbisnis turut berbagi pengalaman. Eko Febrianto, mantan atlet pencak silat yang kini mengelola bisnis Lapak Juara Frozen Food, berbagi perjalanan transisinya dari atlet menjadi pengusaha.
Larasati Sekar Indah Santoso, mantan atlet dayung yang kini mengelola Lafi Swimming Academy, menceritakan pengalamannya dalam mengelola bisnis setelah pensiun.
Selain itu, Nizam Umarushalih, mantan atlet pencak silat yang kini menjalankan bisnis Jastip, berbagi tentang bagaimana memanfaatkan jaringan atlet untuk mendukung kewirausahaan.
Dengan terus mengembangkan program ini, Universitas Ciputra berkomitmen untuk mendukung kesejahteraan atlet setelah pensiun, memastikan bahwa mereka tetap dapat berkontribusi pada masyarakat dan menjalani kehidupan yang lebih baik. [ipl/suf]






