Surabaya (beritajatim.com) – Program SMK BLUD (Badan Layanan Usaha Daerah) milik Pemprov Jatim telah menunjukkan keberhasilan. Salah satunya seperti yang diterapkan di SMKN 1 Buduran, Kabupaten Sidoarjo.
SMKN 1 Buduran sukses mengelola berbagai usaha sekolah, salah satunya Edotel, yang selalu penuh setiap minggunya dengan 15 kamar. Hal ini tak lepas dari status sekolah yang memiliki BLUD dan Teaching Factory (TeFa), yang mendukung pengembangan bisnis dan keterampilan siswa.
Dengan BLUD dan TeFa, tingkat penyerapan lulusan ke industri cukup tinggi. Setiap tahun, 56 persen lulusan bekerja di industri, 25 persen berwirausaha, 18 persen melanjutkan studi, dan 1 persen masih menunggu pekerjaan.
Kepala SMKN 1 Buduran, Agustina menjelaskan, sebagai sekolah BLUD sejak 2018, pihaknya mendapat banyak keuntungan. Salah satunya, sekolah lebih siap dalam menyiapkan lulusan yang siap bekerja di industri.
“SMK BLUD pertama kali diterapkan pada 2018, di mana pengelolaan keuangan harus dilaporkan secara transparan. Dana BOS dan BOPP tidak termasuk BLUD, namun pendapatan dari kegiatan seperti TeFa masuk dalam sistem ini,” jelas Agustina, Minggu (10/11/2024).
TeFa di SMKN 1 Buduran Sidoarjo terdiri dari delapan unit usaha yang dikelola siswa, seperti EdoTel, EdoCafe, kantin, EdoBakery, EdoCatering, EdoSalon, EdoCollection, dan konveksi.
Agustina menekankan pentingnya mengoptimalkan TeFa untuk melatih siswa agar mampu bersaing di dunia industri. “Siswa harus bisa membuat produk yang tidak hanya diajarkan, tetapi juga dijual dan diuji di pasar,” tambahnya.
Agustina juga menyebutkan bahwa banyak yang salah paham tentang tujuan BLUD. “Tujuan BLUD bukan untuk mencari keuntungan semata, tetapi untuk memaksimalkan TeFa agar siswa terlatih dengan budaya kerja industri, sehingga siap terjun ke dunia usaha dan industri,” ujarnya.
Dalam menjalankan TeFa, sekolah bekerja sama dengan dunia industri untuk menyusun kurikulum dan SOP yang sesuai. Salah satunya, EdoTel bekerja sama dengan Hotel Bumi Surabaya untuk pengelolaan fasilitas dan manajemen hotel.
Meskipun sudah berjalan enam tahun, Agustina mengungkapkan tantangan dalam menyamakan pemahaman antara guru dan orang tua terkait pembelajaran di TeFa.
“Kami masih berusaha agar kolaborasi antar mata pelajaran lebih efektif, misalnya guru bahasa Inggris harus mendukung pembelajaran di front office,” jelas Ketua MKKS SMK Negeri Jatim tersebut.
Selain itu, orang tua juga perlu memahami bahwa pembelajaran TeFa mengharuskan siswa bekerja sesuai jadwal industri, seperti saat ada pesanan katering yang harus selesai pagi.
Sejak diluncurkan pada 2017, telah ada 43 SMK BLUD di Jatim. Program ini memberi kesempatan pada siswa dan tenaga pengajar untuk mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri (DUDI).
Sedangkan Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menjelaskan, pembelajaran di SMK BLUD berbeda dari SMK reguler. Siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik langsung sesuai standar industri untuk menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas.
Dengan status BLUD, sekolah memiliki kebebasan mengelola sumber daya secara lebih mandiri dan bisnis yang sehat. Ini memberi kesempatan pada siswa dan guru untuk mengembangkan kewirausahaan.
“Tujuannya bukan untuk mencari keuntungan, tetapi agar siswa lebih siap menghadapi dunia kerja. Siswa dapat terlibat langsung dalam menjalankan bisnis sekolah, baik berupa produk atau jasa, yang sesuai dengan kondisi riil di industri,” jelas Aries.
Sebagai informasi, SMKN 1 Buduran telah meraih penghargaan dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sebagai juara 1 SMK BLUD dengan pendapatan fungsional terbaik, yaitu Rp1,3 miliar dalam setahun.
Pendapatan ini digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional sekolah, termasuk pengadaan bahan, perbaikan infrastruktur, dan menghadirkan guru tamu. [ipl/but]






