Surabaya (beritajatim.com) – BPBD Kota Surabaya mengimbau masyarakat pinggir sungai dan rawa agar senantiasa waspada, atas kemunculan buaya saat musim hujan tiba, Senin (4/11/2024).
Hal itu sampaikan oleh Kabid Darlog dan Logistik BPBD Kota Surabaya, Buyung Hidayat. Merespon adanya video viral kemunculan buaya di pemukiman warga Medokan Semampir, beberapa hari lalu. “Habitat buaya memang berada di lokasi terdekat sungai, pesisir rawa maupun di sekitar mangrove. Apalagi sekarang musim hujan, keadaan tersebut biasanya marak buaya akan muncul,” ujar Buyung, Senin.
Dari situasi tersebut, Buyung mengimbau supaya warga masyarakat yang melihat buaya ini kemudian melapor ke BPBD atau pun Command Center 112. Kata dia, agar petugas bergerak tiba dengan melakukan assesment mitigasi di lokasi. “Kami imbau kepada warga masyarakat Surabaya apabila melihat kemunculan buaya agar sedianya melapor. Selain itu, dalam beraktivitas di perairan agar sedianya safety dan hati hati,” imbuh Buyung Hidayat.
Diberitakan sebelumnya video kemunculan buaya di kawasan Medokan Semampir, Surabaya viral di media sosial diabadikan warga pada saat malam hari.
Buaya di daratan itu terlihat lumayan besar. Meski jadi tontonan warga, buaya tersebut tampak tidak bergerak sama sekali. “Mangap terus rek, golek panganan. Nek dijarno mangan bebek. Tapi gak wani ngutik-ngutik (Mulutnya terbuka terus, cari makanan. Kalau dibuarkan bisa makan bebek. Tapi gak berani menyentuh),” kata salah satu warga yang suaranya terekam dalam video saat dilihat beritajatim.com, Jumat (1/11/2024) lalu.
Warga yang merekam kemunculan buaya terkejut dengan. Warga mengatakan kemunculan buaya ini mengganggu hewan ternak di sekitar, seperti ayam dan bebek. “Iki bajul gak wajar iki. Soale munggah bebek pitik mlayu sedoyo (Ini ada buaya tidak wajar. Karena naik jadi bebek dan ayam lari semua),” lanjutnya.
Sementara terpisah, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam wilayah 3 BBKSDA Jatim, Gatut Panggah Prasetyo mengatakan bahwa buaya yang muncul di sekitar Medokan Semampir merupakan buaya muara atau porosus. “Itu buaya muara atau porosus. Hampir semua daerah pinggiran yang merupakan hulu adalah habitatnya,” kata Gatut dikonfirmasi.
Gatut menjelaskan buaya itu berjenis sama dengan yang muncul di sekitar Sungai Gunung Anyar beberapa waktu lalu. “Bisa jadi ada pergerakan (buaya). Namun untuk saat ini sesuai UU 32 tahun 2024 penanganan buaya menjadi kewenangan KKP,” jelasnya. [kun]






