Banyuwangi (beritajatim.com) – Forum Teknik Sipil Politeknik Se-Indonesia Studi Arsitektur Lokal di Banyuwangi. Mereka memilih Banyuwangi lantaran dikenal sebagai daerah yang peduli dan mengangkat arsitektur lokalnya di setiap bangunan publik pemerintahan.
Itulah yang menjadi salah satu alasan dan perhatian banyak pihak, khususnya para pemerhati bangunan.
Ketua Forum Ketua Jurusan (Kajur) Teknik Sipil Politeknik se-Indonesia Dr. Ing. Luthfi Muhammad Mauludin mengatakan niatnya ke Banyuwangi yakni untuk melihat langsung arsitektural kombinasi modern dan kearifan lokal. Menurutnya, Banyuwangi cukup konsisten dalam menerapkan kearifan lokal pada berbagai karya bangunannya.
Seperti kompleks bangunan Pendopo Sabha Swagata. Mereka mempelajari setiap sudut pendopo Banyuwangi yang hijau dan asri.
“Kami ingin tahu banyak bagaimana Banyuwangi memadukan unsur unsur teknik sipil didalam desain desain bangunan yang memadukan dengan kearifan lokal. Dan yang penting adalah bagaimana kebijakan ini bisa diterapkan,” ujar Luthfi.
Saat di Pendopo, mereka mendapatkan penjelasan mengenai setiap bagian Pendopo. Bangunan utama pendopo adalah salah satu ikon heritage daerah yang telah berusia hampir 250 tahun. Bangunan ini sempat di renovasi tanpa mengubah pondasi utamanya dengan melibatkan arsitek nasional kenamaan, Adi Purnomo.
Mereka menikmati setiap sudut pendipo, seperti bukit hijau yang mengapit sisi belakang pendopo. Di dalam bukit itu terdapat guest house yang terdiri atas sejumlah kamar eksklusif. Guest house ini pernah disinggahi sejumlah tamu kehormatan seperti Duta besar AS, para menteri, dan tokoh-tokoh nasional lainnya.
Selanjutnya rombongan masuk ke bangunan rumah adat yang menjadi replika rumah Suku Osing Banyuwangi. Mereka juga melakukan cuci muka di sumur Sritanjung yang terletak di paling belakang Pendopo yang dipercaya menjadi bagian dari legenda Banyuwangi.
“Pendopo ini kearifan lokalnya lebih menonjol sehinga bangunannya terasa asri, sirkulasinya udara dan pencahayaannya juga lebih baik karena memadukan material unsur alam,” ucap Luhtfie.
Usai berkeliling pendopo, rombongan mendapatkan penjelasan tentang bagaimana pemkab membuat kebijakan agar bangunan-bangunan publik disyaratkan wajib mengadopsi kearifan lokal. Ini berlaku tidak hanya pada bangunan milik pemerintah namun juga yang dibangun oleh swasta.
Sejumlah bangunan milik pemkab yang menerapkan konsep ini di antaranya Bandara Banyuwangi yang diarsiteki oleh Andra Matin. Bandara Banyuwangi cukup kental dengan nuansa arsitektur lokal hingga pernah menyabet penghargaan arsitektur internasional bergengsi Aga Khan Award.
Sejumlah hotel dan bangunan perkantoran di Banyuwangi juga diwajibkan mengadopsi kearifan lokal dalam desainnya baik bangunan gedung, desain eksterior maupun interiornya.
“Kami sudah datang ke berbagai daerah di Indonesia, meskipun setiap daerah memiliki keunikannya tersendiri namun di Banyuwangi ini kami merasakan keunikan yang berbeda. Salah satunya karena Banyuwangi sangat berkomitmen pada arsitektur kearifan lokalnya,” pungkas Luthfi.
Sebelumnya rombongan sebanyak 30 orang itu telah melangsungkan kegiatan selama dua hari sejak Senin 28 Oktober 2024 dan Selasa (29/10/2024) di Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). [rin/aje]






