Jombang (beritajatim.com) – Survei terbaru Pilkada Jombang 2024 kembali dirilis oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Hasilnya, elektabilitas pasangan Warsubi-Salmanudin Yazid atau Warsubi-Gus Salman (WarSa) di angka 60,0% dan pasangan Mundjidah Wahab-Sumrambah 22,5%. Sementara masih ada suara yang belum memutuskan/merahasiakan pilihannya sebesar 17,5%.
Survei dilakukan pada tanggal 16-22 Oktober 2024 dengan menggunakan metodologi multi stage random sampling melalui wawancara tatap muka kepada 440 responden dengan margin of error kurang lebih 4,8%.
Dengan hasil tersebut, elektabilitas pasangan Warsubi meningkat sebesar 6,1% dibandingkan periode survei sebelumnya. Yaitu dari 53,9% menjadi 60%. Sebaliknya, pasangan Mundjidah-Sumrambah justru turun dari 23,9% menjadi 22,5%. Demikian diungkapkan Peneliti LSI Denny JA, Fadhli Fakhri Fauzan, dalam siaran persnya, Selasa (29/10/2024).
Seperti diketahui bahwa ada dua pasangan calon kepala daerah yang terdaftar di KPU Kabupaten Jombang, pasangan Mundjidah Wahab-Sumrambah yang mendapatkan nomor urut 1 dan pasangan Warsubi-Salmanudin Yazid atau WarSa mendapatkan nomor urut 2.
“Pasangan Mundjidah Wahab-Sumrambah tertinggal cukup jauh dengan Selisih 37,5% dari Warsubi-Salmanudin Yazid. Posisi ini tentunya semakin menempatkan pasangan incumbent menjadi tidak aman, karena di sisa waktu kurang dari satu bulan sebelum pelaksanaan pemilihan mereka masih tertinggal cukup jauh,” tulis Fadhli.
Menurut Fadhli, butuh upaya yang ekstra keras untuk bisa mengejar ketertinggalan. Mundjidah Wahab-Sumrambah sebagai Bupati dan Wakil Bupati incumbent tidak mampu mengkapitalisasi satu periode kepemimpinannya sebagai modal dasar elektabilitasnya.
Faktor yang Mempengaruhi

Fadhli berpandangan, kuatnya elektabilitas pasangan Warsubi-Salmanudin Yazid ini tidak terlepas dari tingkat kesukaan pasangan ini yang tinggi di angka 87,3% dibanding pasangan incumbent di angka 82,9%. Bahkan ketidaksukaan terhadap pasangan incumbent lebih tinggi di angka 9,9%, dibandingkan pasangan Warsubi-Salmanudin Yazid di angka 3,5%.
Kondisi rendahnya elektabilitas pasangan incumbent Mundjidah Wahab-Sumrambah juga turut didasari oleh tingkat kepuasaan terhadap kinerja mereka sebagai bupati dan wakil bupati sebelumnya di angka yang rendah, yaitu Bupati 66,6% dan Wakil Bupati 61,3%, serta tingkat keberhasilan kinerja Bupati di angka 64,3 dan Wakil Bupati 62,7%.
“Angka kepuasan dan keberhasilan incumbent setidaknya di angka 75-80% untuk bisa kembali terpilih di gelaran pilkada. Angka kepuasan dan keberhasilan yang rendah ini menjadi penyebab tingkat menginginkan kembali incumbent menjadi rendah, hanya di angka 30,5 % dibanding yang tidak menginginkan di angka 46,1%,” lanjutnya.
PDIP, PPP dan Demokrat Tak Selaras

Hal yang juga cukup menarik dari temuan survei ini, lanjutnya, antara pilihan partai politik tidak serta merta selaras dengan pilihan Pasangan Calon Bupati-Wakil bupatinya. Ini memang didasari bahwa masyarakat lebih melihat sosok personal, figur, atau ketokohan dari calon ketimbang siapa partai pengusung dari pasangan calon tersebut.
Mayoritas masyarakat (84,3%) memilih calon bupati/wakil bupati terlepas diusung atau tidak dari partai yang disukai. Atau bisa jadi ini merupakan indikasi bahwa konsolidasi partai ke akar rumput belum maksimal.
Data berikut memperlihatkan bahwa banyak masyarakat yang pilihan partainya tidak selaras dengan dukungan partai ke pasangan calon bupati dan wakil bupatinya. Semisal PDIP, Demokrat, serta PPP yang dukungan partainya ke pasangan Mundjidah Wahab-Sumrambah, tetapi pemilih dari partai tersebut ada yang bergeser ke pasangan Warsubi-Gus Salman.
Rinciannya, 55,6 % dari pemilih Warsubi-Salman berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), kemudian 58,3% dari Partai Demokrat, serta 41,7% dari pemilih PPP. Padahal tiga partai di atas adalah pengusung pasangan Mundjidah-Sumrambah.
Menurut LSI Denny JA, masih ada waktu bagi pasangan Mundjidah Wahab-Sumrambah untuk mengejar ketertinggalan. Namun, jika tidak ada strategi kampanye yang tepat serta pergerakan yang massif dan kuat, nampaknya Mundjidah Wahab-Sumrambah sebagai incumbent sulit untuk mengejar ketertinggalan bahkan mungkin akan semakin lebar jarak elektabilitasnya. [suf]






