Malang (beritajatim.com) – Pada peringatan Dies Natalis ke-62 Universitas Brawijaya (UB) yang digelar Sabtu (26/10/2024), Direktur Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan Indonesia, Rinna Syawal, S.P., M.P., menyampaikan dukungannya terhadap Gerakan Konsumsi Pangan Lokal yang diinisiasi UB. Acara yang berlangsung di koridor Gedung Rektorat ini menyoroti pentingnya diversifikasi pangan, khususnya melalui konsumsi ubi sebagai alternatif pengganti nasi.
Dalam sambutannya, Rinna menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan yang beragam dan kaya gizi, sehingga sangat memungkinkan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan seperti beras.
“Indonesia memiliki potensi besar dalam hal penganekaragaman pangan. Gerakan UB ini adalah langkah positif yang kami dukung penuh, karena masyarakat perlu mengenal dan mengonsumsi pangan lokal yang lebih bervariasi,” jelasnya.
Rinna juga menyoroti pentingnya diversifikasi pangan dalam menjaga ketahanan pangan nasional, terlebih di tengah situasi global yang tak menentu. “Beberapa negara sedang menghadapi krisis pangan, dan kita harus belajar dari situ. Indonesia bisa lebih kuat dengan tidak terlalu bergantung pada beras. Pangan lokal kita, seperti ubi, memiliki kandungan nutrisi yang baik dan perlu dimanfaatkan secara maksimal,” tambah Rinna.
Pada kesempatan tersebut, UB membagikan bibit cabai dan ubi Varietas Brawijaya kepada 113 kelompok urban farming di kota Malang. Bibit ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat ketahanan pangan lokal. Rinna menilai inisiatif ini penting untuk memperkenalkan metode penanaman yang bisa diaplikasikan di lahan perkotaan dan mendorong masyarakat untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat mengedukasi masyarakat akan pentingnya penganekaragaman pangan. Jika masyarakat mulai mengonsumsi berbagai jenis pangan lokal, kita akan memiliki ketahanan pangan yang lebih kuat dan inflasi pangan juga bisa terkendali,” ujar Rinna.
Melalui kerja sama dengan pemerintah dan institusi seperti UB, Rinna optimis bahwa gerakan ini dapat mendorong terciptanya pola konsumsi yang lebih beragam di masyarakat. Gerakan Konsumsi Pangan Lokal yang dilakukan UB diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain dalam mengoptimalkan potensi pangan lokal mereka.
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menyatakan bahwa kampus sebagai pusat ilmu memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung program ketahanan pangan.
“Gerakan ini sejalan dengan visi UB untuk berkontribusi pada masyarakat dan ketahanan pangan nasional. Menanam cabai dan ubi mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya pada inflasi dan ketahanan pangan sangat signifikan,” tutur Prof. Widodo.
UB juga melibatkan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) untuk memberikan solusi pertanian perkotaan yang efisien, yakni inovasi “Ubi dalam Karung”. Dekan FTP, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., menjelaskan, “Metode Ubi dalam Karung memungkinkan masyarakat perkotaan menanam di lahan terbatas. Program ini sangat relevan untuk kota Malang, di mana lahan pertanian terbatas.”
Ketua Pelaksana kegiatan, Abdul Ghofar, SE., M.Si., DBA., Ak., menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis UB. Selain memperkenalkan ubi, kegiatan ini juga diisi dengan pembagian bibit cabai dan ubi untuk komunitas urban farming di Malang, hasil kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan serta Bank Indonesia (BI).
“Kami membagikan bibit cabai dan ubi Varietas Brawijaya sebagai langkah antisipasi terhadap inflasi pangan. Menanam cabai dan ubi bisa menjadi alternatif bagi masyarakat saat harga beras atau bahan pangan lain mengalami kenaikan,” jelasnya. (dan/ian)






