Jember (beritajatim.com) – Perkumpulan Spesialis Bedah Anak Indonesia (PERBANI) wilayah Jawa Timur – Bali – Nusa Tenggara bekerja sama dengan RSD dr. Soebandi Jember menyelenggarakan seminar kesehatan bertajuk “Seminar Deteksi Dini Kelainan Bedah Bawaan Bayi Baru Lahir.” Acara ini berlangsung di Aula Masjid Darusyifa, RSD dr. Soebandi Jember dan dihadiri oleh 75 tenaga kesehatan, termasuk dokter umum, perawat, serta bidan dari Puskesmas dan berbagai fasilitas kesehatan lainnya.
Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya deteksi dini dalam kasus kelainan bawaan lahir, serta memperkuat penanganan yang terintegrasi guna mencapai hasil optimal. Dengan latar belakang tingginya angka kasus kelainan bawaan yang kerap terlambat didiagnosis, seminar ini hadir untuk memberikan solusi bagi masalah yang bisa memengaruhi kualitas hidup anak.
Secara global, satu dari 33 bayi terlahir dengan kelainan bawaan yang mencakup berbagai kondisi seperti atresia ani dan hernia diafragmatika. Hal ini menggarisbawahi pentingnya deteksi dini untuk memperbaiki kualitas hidup anak yang lahir dengan kondisi tersebut.
Ketua pelaksana seminar, Dr. Made Walmiky Budi, Sp. BA, M.Ked.Klin, menjelaskan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam deteksi dini. Dalam pemaparannya, ia menyoroti peran alat seperti USG prenatal dan tes skrining neonatal dalam mendeteksi kelainan sebelum dan setelah kelahiran.
“Deteksi dini memungkinkan intervensi medis yang lebih cepat dan tepat, terutama untuk kondisi kelainan bawaan yang berpotensi mengancam nyawa,” ujarnya pada Sabtu (19/10/2024).
Seminar yang dipandu oleh Dr. Bela Mayvani Rachman, Sp.BA, M.Ked.Klin., juga memberikan panduan mengenai deteksi awal dan penanganan kelainan bedah bawaan. Dr. Poerwadi, Sp.BA, SubSp.D.A (K), menekankan pentingnya kerja sama antara keluarga, tenaga medis, dan pemerintah untuk mengidentifikasi dan menangani kelainan bawaan secara efektif.
Selama seminar, beberapa studi kasus dibahas, termasuk penanganan hernia diafragmatika yang terdeteksi melalui USG prenatal. Contoh kasus menunjukkan bahwa intervensi bedah yang dilakukan segera setelah bayi lahir mampu memberikan hasil yang signifikan, dengan bayi bisa tumbuh dan berkembang secara normal. Dr. Olivia Listiowati Prawoto, Sp.OG., juga menekankan pentingnya deteksi dini bagi ibu hamil dengan risiko kelainan bawaan.
Peserta seminar mendapatkan pelatihan pertolongan pertama untuk kelainan bawaan seperti hernia diafragmatika dan gastroschizis. Dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A, M.Ked.Klin., menjelaskan bahwa tindakan dalam “Golden Minute” atau menit pertama setelah kelahiran sangat menentukan peluang survival bayi dengan kelainan bawaan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Supangat, M.Kes, PhD, Sp.BA., menekankan pentingnya penyelenggaraan seminar seperti ini untuk mencapai visi peningkatan kesehatan anak di Indonesia.
“Dengan meningkatnya kesadaran dan pengetahuan di kalangan tenaga medis, lebih banyak bayi dengan kelainan bawaan diharapkan bisa mendapatkan penanganan tepat waktu,” ucapnya.
Pemerintah Indonesia juga turut menunjukkan komitmen melalui rencana menambah jumlah spesialis bedah anak sebanyak 20 hingga 30 orang per tahun. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, SP.PD-KEMD., Ph.D., dalam pertemuan dengan PERBANI pada Agustus 2024. Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses layanan bedah anak, khususnya di wilayah dengan kekurangan tenaga medis.
Dengan adanya seminar penyuluhan kesehatan ini, diharapkan semakin banyak tenaga kesehatan yang mampu melakukan deteksi dini terhadap kelainan bawaan pada bayi baru lahir, sehingga intervensi medis dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat menjadi kunci dalam memastikan anak-anak Indonesia yang lahir dengan kondisi khusus dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Pemeriksaan rutin serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini merupakan faktor krusial untuk mendukung generasi Indonesia Emas 2045.






