Surabaya (beritajatim.com) – Aliansi Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Universitas Airlangga (Unair) mengembangkan model peer group support (PGS) untuk orang dengan HIV AIDS (ODHIV).
Pengembangan PGS ini diharapkan dapat mendukung kemampuan penderita HIV AIDS dalam pengobatan sehingga tingkat kepatuhan antiretroviral (ARV), tingkat imunitas, dan kualitas hidup akan meningkat.
Tim peneliti, Dr Misutarno mengatakan pengembangan ini penting karena kesehatan individu dengan penyakit kronis memerlukan perubahan sistem yang pada dasarnya reaktif menjadi proaktif dan fokus pada menjaga agar tetap sehat.
“Di sini intervensi tidak hanya membutuhkan penentuan perawatan apa yang dibutuhkan, tetapi juga menjelaskan peran dan tugas untuk memastikan penderita mendapatkan perawatan menggunakan interaksi yang terstruktur dan terencana,” katanya, Sabtu (12/10/2024).
HIV merupakan retrovirus yang menginfeksi dan merusak fungsi sistem imun dengan stadium paling lanjut dapat berubah menjadi AIDS. Angka penderita HIV masih tinggi dan kepatuhan pengobatan ARV juga belum 100 persen.
Ketidakpatuhan penggunaan ARV membuat viral load meningkat dan jumlah CD4 akan semakin menurun dan berdampak pada penurunan imunitas tubuh yang progresif.
“Penurunan imunitas yang terjadi ini akan berdampak pada perburukan penyakit, munculnya banyak infeksi oportunistik (IO) dan menurunkan kualitas hidup, sehingga berpengaruh terhadap kondisi keseharian penderita,” imbuhnya.
Misutarno menyebut, sejauh ini dukungan masyarakat menjadi hal penting bagi penderita sebagai penyemangat dalam terapi seumur hidup.
Ia menambahkan, hasil pengembangan model yang dilakukan menunjukkan dukungan teman sebaya berbasis perawatan model kronis dalam meningkatkan derajat kesehatan ODHIV yang meliputi kepatuhan antiretroviral, peningkatan imunitas dan kualitas hidup ODHIV.
“Kami juga turut membut sebuah modul panduan yang berisi tentang konsep HIV AIDS, peer group support, Chronic Care Model, kepatuhani antiretroviral, peningaktan imunitas yang meliputi CD4, viral load, infeksi oportunistik, dan kualitas hidup” terangnya.
Modul tersebut, kata Misutarno, memberikan kemanfaatan untuk perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada penderita.
Melalui peer group support dan adanya dukungan teman sebaya yang memiliki pengalaman lebih dulu mengalami HIV AIDS, dapat memberikan motivasi dan dukungan kepada penderita yang baru terdiagniosis HIV AIDS.
“Kami juga merekomendasikan kepada seluruh rumah sakit agar dapat menerapkan program kegiatan peer group atau dukungan kelompok sebaya untuk memberikan dukungan secara eksternal terhadap ODHIV yang sedang melaksanakan pengobatan, sehingga kondisinya semakin membaik,” pungkasnya. [ipl/ted]






