Surabaya (beritajatim.com) – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia terus berkomitmen untuk meningkatkan prestasi atlet disabilitas Indonesia. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, Kemenpora telah menerapkan sistem seleksi dan pembinaan yang ketat dan transparan.
Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora RI, Surono, menjelaskan bahwa proses seleksi atlet disabilitas tidak jauh berbeda dengan atlet non-disabilitas. Namun, terdapat klasifikasi khusus yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat disabilitas masing-masing atlet. “Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap atlet mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka,” ujar Surono dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9).
Atlet disabilitas yang lolos seleksi akan menjalani pembinaan intensif di Pusat Latihan Nasional Paralimpik (NPCI) yang berlokasi di Surakarta. Fasilitas yang lengkap dan ramah disabilitas di Surakarta dinilai sangat mendukung proses pembinaan atlet. “Surakarta telah terbukti menjadi lokasi pembinaan yang sangat baik,” tambah Surono.
Kemenpora menargetkan para atlet disabilitas Indonesia dapat meraih prestasi gemilang di ajang internasional seperti Paralympic Games. Prestasi atlet Indonesia di Paralympic Games 2024 Paris menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan telah membuahkan hasil.
Pemindahan penyelenggaraan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024 dari Sumatera Utara ke Kota Solo juga menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mendukung perkembangan olahraga disabilitas. Fasilitas yang lebih memadai di Solo dinilai lebih sesuai untuk menampung para atlet disabilitas.
Kemenpora telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp290,6 miliar untuk penyelenggaraan Peparnas 2024. Anggaran ini akan digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari akomodasi atlet hingga peralatan pertandingan. Selain itu, Kemenpora juga mengajak pemerintah daerah untuk turut berperan aktif dalam mendukung pengembangan olahraga disabilitas di daerah masing-masing.
Kemenpora berharap dengan adanya pembinaan yang sistematis dan dukungan dari berbagai pihak, prestasi atlet disabilitas Indonesia dapat terus meningkat. “Kami ingin menciptakan ekosistem olahraga yang inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua atlet, termasuk atlet disabilitas,” tutup Surono. (*)






