Jombang (beritajatim.com) – Siapa yang tak kenal dengan sosok Cabup (calon bupati) Jombang H Warsubi? Tak cuma dikenal sebagai pengusaha, Warsubi juga dihormati karena kesederhanaan dan komitmennya dalam memberikan sumbangsih kepada masyarakat.
Laki-laki kelahiran Jombang ini menyelesaikan kuliah Diplomanya di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Berbekal pendidikan itu, ia berpamitan kepada sang Ibunda hendak merantau mencari kerja di Kota Pasuruan.
Ibundanya mengizinkan lalu membekalinya dengan uang sebesar Rp75 ribu hasil pinjam dari koperasi. Berbekal uang seadanya itulah Warsubi bertekad untuk mencari kerja di Perusahaan Korea, Cheil Samsung Astra Indonesia yang kini lebih dikenal dengan nama PT Cheil Jedang Indonesia.
“Waktu itu, saya nekat saja. Uang dari Ibu hanya 75 ribu rupiah. Tapi saya yakin kalau ridha orangtua itu besar sekali efeknya dalam hidup kita. Dan benar. Saya yang mencari kerja ini justru ditawarkan untuk dijadikan mitra sama perusahan besar tersebut,” katanya sambil tersenyum, Selasa (8/10/20214).
Ditemui di kediamannya, Warsubi bercerita tentang bagaimana dia akhirnya memulai usahanya sampai bertumbuh pesat seperti hari ini. Sesekali ia mengernyitkan dahi, mengingat masa-masa penuh perjuangan yang dia lalui.
Kemudian tersenyum ketika mengingat bahwa usahanya hari ini berjalan makin maju dan bertumbuh besar serta memberikan manfaat bagi orang sekitarnya.
Bagi Warsubi, diberikan kesempatan menjadi Mitra dari sebuah perusahaan besar Korea yang berada di Indonesia itu bukan perkara mudah. Tapi ia terima karena meyakini tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.
Saat itu, ia diminta untuk menjadi pemasok pupuk cair organik. Warsubi tentu saja senang. Karena ini juga jadi kesempatan baginya untuk bisa bermanfaat buat masyarakat. Sekalian, usaha pupuk organik ini didistribusikan ke masyarakat sekitar agar mereka teredukasi menggunakan pupuk organik.
“Alhamdulillah usaha itu berjalan lancar. Terus saya kepikiran, kalau usaha pupuk kan harus punya cukup contoh tanaman yang berhasil dipupuk dan tumbuh sehat kan? Karena itulah kemudian setahun pasca usaha pupuk cair organik saya meningkat pesat, saya mulai turut menanam tebu dan padi. Jadi orang bisa lihat, pemakain pupuk organik efeknya sangat positif, tanah juga jadi lebih sehat,” ujarnya sambil tersenyum.
Usaha Warsubi terus berkembang. Yang tadinya menanam tebu dan padi hanya dijadikan pelengkap, namun semakin lama usaha pertaniannya menjadi makin bertumbuh.
Di saat Krisis Moneter 1998, ia bersyukur usahanya tidak collapse seperti kebanyakan perusahaan lain. Di tahun itu juga Warsubi justru berkesempatan menuntut Ilmu Ke Negeri Gingseng.
Iya, jauh sebelum K Pop dan Drama Korea terkenal di Indonesia, Warsubi sudah lebih dulu menginjakkan kaki ke negeri gingseng untuk belajar tentang teknik pemasaran.
“Lantas saya terpikirkan untuk membuat usaha yang awalan namanya Sam. Di Korea ada Samsung. Di Malaysia ada Sime Darby. Nah di Indonesia, di Jombang ini ada Samsubi,” kelakarnya.
Lalu benar. Keinginan Warsubi terwujud. Ia mendirikan Samsubi Farm yang khusus mengelola peternakan ayam dan unggas lain seperti bebek.
Komitmen Warsubi pada Pertanian dan Peternakan

Ketika ditanya, mengapa dia memilih usaha yang berhubungan dengan peternakan dan pertanian, Warsubi lantas tersenyum.
“Indonesia ini kan negara agraris. Tadinya sebagian besar masyarakatnya berkecimpung di pertanian, peternakan dan perikanan. Tapi setelah beberapa waktu, hal ini menjadi bergeser. Banyak produk pangan yang harus impor. Padahal di desa-desa kita banyak sekali hasil alam yang bisa diolah dan dikembangkan,” urainya.
Ia melanjutkan, yang dirinya lakukan memang belum seberapa tapi setidaknya Pria kelahiran tahun 1968 ini telah bergerak memulai sesuatu. Sebuah proyek yang semoga bisa menginspirasi semua kalangan.
Mulai dari penggunaan pupuk organik agar tanah kelahirannya ini sehat, mengkonsumsi hasil pertanian dan peternakan yang diberdayakan di negeri sendiri hingga membuat makanan olahan dengan daya sendiri.
“Perekonomian negara ini sangat bergantung pada sektor pertanian. Di Jombang pun begitu. Kita harus mulai meningkatkan peran sentral korporasi petani agar dapat mengedepankan nilai tambah on farm maupun off farm,” ujarnya.
Jadi, model bisnis kolaboratif-inklusif yang bisa mendongkrak sektor pangan ini bisa menjadi kekuatan ekonomi baru yang membuka lapangan kerja dan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat. Ini harus diterapkan juga di Jombang,” lanjutnya.
Lalu kenapa di Jombang?
Warsubi lagi-lagi tersenyum. Baginya Jombang bukan hanya tempat lahir dan tinggal tapi juga tempat untuk dirinya mengabdikan diri pada sekelilingnya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
Desa Mojokrapak adalah saksi ketika Ia membaktikan dirinya selama 17 tahun menjadi kepala desa. Kini sudah saatnya Jombang berbenah dan dibenahi. Sudah saatnya Jombang menjadi Kabupaten yang maju dan sejahtera. [suf]







1 Komentar
Perlu dijadikan contoh Atas keberhasilannya Bapak Warsubi dalam usaha pertanian dan peternakan, saya doakan Bapak kalau panjenengan nantinya diamanahi rakyat Kab Jombang saya usul agar kami2 para peternak2 kecil ini dibimbing dan diperhatikan