Jombang (beritajatim.com) – Pasar Tunggorono menjadi pasar tradisional ke 3 setelah Mojoagung dan Ngoro yang dikunjungi calon Bupati (Cabup) Jombang H Warsubi. Penataan pasar di Jombang dinilai semrawut dan tidak serius.
Di Tunggorono sendiri, Proyek yang menelan anggaran senilai Rp 3.754.201.700 itu terlihat kios banyak yang kosong dan fasilitas mulai terlihat rusak.
Ketika mendatangi beberapa pedagang di Pasar Tunggorono, Warsubi sempat melakukan bincang dengan mereka. Mendengarkan keluhan-keluhan para pedagang dengan berbagai polemik mereka.
“Penataan pasar memang diperlukan. Tapi harus dilihat kembali secara fungsional. Kira-kira impact ke masyarakat bagaimana. Jangan sampai menelan anggaran bombastis. Tapi kemudian hasilnya justru merugi. Pedagang terlalu berat dengan biaya sewa, akhirnya banyak kios kosong tak terawat,” ujar Warsubi.
Menurut Warsubi pembenahan pasar harus dikelompokkan. Misalnya, mana bangunan yang butuh renovasi, mana bangunan yang butuh pembongkaran dan pembangunan ulang. Sehingga akan lebih menghemat anggaran.
“Dan yang lebih penting, para pedagang pasar harus diberikan sosialisasi soal pembangunan ulang atau renovasi. Ini penting agar tidak terjadi penolakan atau kericuhan yang tidak kita inginkan dalam menata Jombang menjadi lebih baik,” jelasnya.
Ia melihat potensi Pasar Tunggorono menjadi pasar loak yang paling dicari. Hampir seluruh barang bekas bisa ditemukan di pasar loak Tunggorono. Mulai onderdil mesin, alat rumah tangga hingga benda-benda elektronik yang mungkin sudah sulit dicari di pasaran.
Berdasarkan penelusuran, pasar loak Tunggorono Jombang sudah ada sejak 1994. Sejak berdiri, pasar ini jadi sentranya perdagangan barang loak di Jombang Jawa Timur.
“Ini potensi yang bisa menjadi daya tarik tersendiri. Seperti Pasar Gembong di Surabaya atau Pasar loak Jatinegara yang menjadi jujugan orang-orang untuk mencari barang-barang vintage atau daur ulang,” katanya.
Membeli Sejumlah Barang

Setelah berkeliling pasar sembari membeli beberapa barang dagangan seperti gergaji, arit, sekop kecil, golok, cangkul hingga membelanjakan kacamata trendi untuk pengunjung pasar. Warsubi yang datang beserta sang istri juga sempat takjub pada mereka yang berhasil mendaur ulang lampu bohlam yang sudah mati, dijadikan seperti baru lagi.
“Mereka ini kreatif sekali. Bisa ngurangi limbah lampu. Bohlam lama bisa diganti bagian dalamnya dengan rakitan sendiri. Sehingga bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya takjub.
Sementara calon Wakil Bupati Jombang, KH Salmanudin Yazid atau Gus Salman, hadir di sebuah UMKM, Warung Pengkol 24 untuk makan siang bersama tim relawan Warsubi-Salman (Warsa).
Seperti diketahui pasangan Warsubi-Salman atau WarSa adalah Cabup-Cawabup yang akan bertarung di Pilkada Jombang 27 November 2024. Pasangan nomor urut 2 ini diusung oleh sejumlah partai. Di antaranya, Partai Gerindra (8 kursi), PKB (12 kursi), Partai Golkar (5 kursi), PKS (3 kursi), serta Partai Nasdem (2 kursi). Totalnya 30 kursi.
Sedangkan partai non-parlemen yang memberikan rekomendasi untuk pasangan ini adalah PAN (Partai Amanat Nasional), PSI (Partai Solidaritas Indonesia) dan Partai Gelora. [suf]






