Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Negeri (UIN) melalui program pengabdian masyarakat Qoryah Thoyyibah, berkomitmen untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Mangliawan, Pakis, Kabupaten Malang. Kegiatan ini berfokus pada pemberdayaan PKK dan pelaku usaha mikro untuk mengelola limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.
Inovasi ini tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM di desa tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diawali dengan sambutan dari Kepala PKK Desa Mangliawan, Sri Astutik.
Sri Astutik menyampaikan bahwa di Desa Mangliawan terdapat banyak industri rumahan yang memproduksi keripik tempe dan produk UMKM lainnya. Proses produksi tersebut membutuhkan minyak dalam jumlah besar, yang kemudian menghasilkan limbah minyak jelantah.
“Minyak jelantah ini sering kali tidak dimanfaatkan dengan baik, dan kami sangat berterima kasih kepada UIN Maulana Malik Ibrahim Malang karena memberikan solusi inovatif melalui pelatihan ini,” kata Sri Astutik pada beberapa waktu lalu.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan limbah tersebut agar tidak merusak lingkungan, sesuai dengan slogan PKK desa mereka, yaitu “Sehat Rohani, Sehat Jasmani, dan Sehat Ekonomi.”
Selanjutnya, Prof. Triyo Supriyatno, Ph.D., dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga lingkungan dengan mengelola limbah rumah tangga, salah satunya minyak jelantah.
“Pengelolaan limbah minyak jelantah ini bisa memberikan manfaat ganda, menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat. Selain itu, lilin aromaterapi yang dihasilkan juga bisa digunakan untuk relaksasi,” ujarnya. Prof. Triyo berharap melalui pelatihan ini masyarakat bisa lebih sadar tentang pentingnya kelestarian lingkungan.
Dr. Muhammad Amin Nur, M.Pd., turut menyampaikan pandangannya tentang pentingnya peran perempuan dalam ekonomi desa. Ia menyatakan, “Tombak kedamaian dalam ekonomi adalah perempuan, dan karena itu, ibu-ibu di desa harus mampu mengelola ekonomi keluarga dengan baik dan berkontribusi dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, kami sangat mendukung ibu-ibu PKK Desa Mangliawan untuk terlibat aktif dalam pengelolaan limbah menjadi produk yang bernilai ekonomis,” ujarnya saat acara pada 3 Agustus 2024 lalu.
Selanjutnya, Dr. Hj. Samsul Susilawati, M.Pd., memberikan penyuluhan tentang bahaya limbah minyak jelantah yang tidak dikelola dengan baik. Limbah minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan merusak ekosistem.
“Minyak jelantah yang dibuang begitu saja akan menjadi sumber pencemaran lingkungan. Ini sangat berbahaya, dan kita harus bijak dalam mengelolanya,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa minyak jelantah adalah produk sisa yang hampir selalu ada di setiap rumah tangga, terutama di rumah para ibu rumah tangga yang sering memasak dengan minyak.
Di Desa Mangliawan, yang memiliki beberapa industri rumahan keripik tempe, terdapat banyak minyak bekas penggorengan. Oleh karena itu, perlu adanya pengelolaan minyak jelantah agar tidak mencemari lingkungan dan bisa dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomis, seperti lilin aromaterapi.
Dalam pelatihan ini, Samsul Susilawati memberikan instruksi langsung kepada para ibu PKK. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok agar dapat membuat lilin aromaterapi dengan aroma yang berbeda-beda, sehingga dapat menghasilkan variasi produk yang lebih menarik untuk dijual.
Proses pembuatan lilin diawali dengan mempersiapkan alat dan bahan. Alat-alat yang diperlukan antara lain panci, kompor, sendok, pisau, gunting, gelas lilin, sumbu lilin, dan stik es krim. Bahan-bahan yang digunakan meliputi minyak jelantah, asam stearat, krayon, minyak esensial, dan hiasan bunga kering.
“Tahap pertama dalam proses pembuatan lilin aromaterapi adalah mempersiapkan sumbu dan gelas lilin. Setelah minyak jelantah dipanaskan dengan api kecil, kami tambahkan asam stearat dengan perbandingan 2:1, kemudian diaduk hingga merata,” jelas Ibu Samsul.
“Pewarna krayon dan minyak esensial kemudian ditambahkan untuk memberikan warna dan aroma yang khas pada lilin. Setelah itu, campuran tersebut dituangkan ke dalam gelas lilin dan dihiasi dengan bunga kering. Setelah mengering, lilin siap dikemas dan dijual,” tambahnya.
Setiap kelompok membuat lilin dengan aroma dan warna yang berbeda, sehingga memberikan variasi produk yang menarik bagi konsumen. Setelah lilin mengering, mereka dikemas dalam kotak yang dihias agar memiliki daya tarik lebih ketika dipasarkan.
“Pengemasan yang baik sangat penting karena dapat meningkatkan nilai jual lilin aromaterapi di pasaran. Produk ini dapat dipasarkan secara online maupun offline,” ungkapnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini mendapat sambutan yang sangat positif dari warga Desa Mangliawan. Ketua PKK, Sri Astutik, menyampaikan rasa syukur dan kegembiraannya atas terselenggaranya pelatihan ini.
“Kami sangat senang dengan adanya pelatihan ini karena memberikan solusi kreatif untuk memanfaatkan limbah minyak jelantah yang selama ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Dengan adanya pelatihan ini, kami memiliki peluang baru untuk meningkatkan pendapatan keluarga,” katanya.
Ia juga berharap kegiatan pelatihan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan agar UMKM di Desa Mangliawan semakin berkembang. “Kami berharap pelatihan semacam ini dapat terus dilakukan agar kami bisa mendapatkan lebih banyak keterampilan untuk meningkatkan kualitas dan variasi produk UMKM. Terima kasih kepada UIN Maulana Malik Ibrahim Malang atas dukungannya,” ujar Sri Astutik.
Program pengabdian masyarakat ini merupakan salah satu wujud nyata dari peran UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam mendukung perkembangan UMKM dan kelestarian lingkungan di daerah-daerah sekitar kampus. Dengan memberikan pelatihan keterampilan dan pengetahuan yang aplikatif, universitas ini berharap dapat membantu masyarakat mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan, sekaligus membuka peluang usaha baru yang menguntungkan.
“Pengelolaan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk selalu berinovasi dalam memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka,” ujar Prof. Triyo Supriyatno.
Ia menambahkan bahwa tidak hanya dari segi lingkungan, inisiatif ini juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan, karena membuka peluang baru bagi perempuan di Desa Mangliawan untuk menjadi pelaku usaha yang produktif dan mandiri.

Kegiatan pengabdian ini juga sejalan dengan visi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk turut berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera melalui kegiatan pendidikan dan pengabdian yang inovatif.
“Dengan memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai jual, masyarakat tidak hanya diberdayakan secara ekonomi tetapi juga turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup,” tegas Dr. Muhammad Amin Nur.
Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa lain di Indonesia dalam memberdayakan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya yang ada secara kreatif dan berkelanjutan.
Pengembangan UMKM berbasis inovasi seperti ini sangat penting untuk meningkatkan daya saing produk lokal, membuka lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan dapat terus ditingkatkan untuk mendukung kemajuan UMKM dan pelestarian lingkungan. (dan/but)






