Malang (beritajatim.com) – Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menghadirkan beragam kegiatan yang inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu kegiatan menarik yang dilakukan tahun ini adalah proyek pemanfaatan sampah plastik menjadi ecobrick, diprakarsai oleh tim 7 gelombang 2.
Melalui kegiatan ini, mereka menunjukkan bahwa sampah plastik tidak harus berakhir di tempat pembuangan, tetapi bisa diubah menjadi produk yang berguna dan bernilai ekonomis. Proyek ini berlangsung sejak akhir Agustus hingga September 2024 dan mendapat respons positif dari masyarakat setempat.
Ketua tim, Sandra Krisna Nugraha Putri, menjelaskan bahwa ecobrick merupakan teknik inovatif yang melibatkan pemadatan sampah plastik ke dalam botol bekas sehingga menjadi padat dan kuat. Ecobrick yang dihasilkan kemudian dapat digunakan sebagai bahan bangunan atau kerajinan tangan.
“Proses pembuatan ecobrick ini sangat mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa,” ujar Sandra, Senin (30/9/2024). Selain itu, teknik ini dianggap sebagai solusi efektif untuk mengatasi masalah sampah plastik yang semakin meresahkan.
Dalam pembuatan ecobrick, langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan sampah plastik seperti kantong kresek, kemasan makanan, dan botol plastik yang sudah tidak terpakai. Sampah ini kemudian dibersihkan dan dikeringkan.
Setelah itu, sampah plastik dimasukkan ke dalam botol bekas secara bertahap, kemudian dipadatkan menggunakan alat seperti kayu atau besi kecil hingga botol menjadi padat. Sandra menjelaskan bahwa setelah botol-botol ini terisi penuh, mereka bisa dijadikan bahan dasar untuk berbagai jenis kerajinan tangan, termasuk kursi duduk.
Pembuatan kursi dari ecobrick ini juga cukup sederhana. Dimulai dengan menyusun botol-botol ecobrick tersebut dan merekatkannya menggunakan lem untuk memastikan strukturnya stabil dan kokoh. “Ecobrick bisa digabungkan secara vertikal maupun horizontal, tergantung desain yang diinginkan,” tambah Sandra.
Setelah struktur dasar kursi terbentuk, bagian atasnya dilapisi dengan bahan yang lebih nyaman seperti kayu atau triplek. Triplek dipilih karena ringan, kuat, dan mudah dibentuk sesuai ukuran yang dibutuhkan.
Bahan ini juga memberikan kenyamanan lebih saat kursi digunakan, sehingga pengguna tidak merasakan permukaan botol secara langsung. Triplek yang sudah dipotong sesuai ukuran kemudian ditempelkan di atas susunan ecobrick menggunakan lem kayu atau paku kecil untuk menambah kestabilan.
Sandra menekankan bahwa meskipun kursi ecobrick ini terlihat sederhana, penggunaannya cukup luas. “Kursi ecobrick ini dapat digunakan di rumah, ruang publik, sekolah, taman, dan berbagai tempat lainnya. Selain mengurangi sampah plastik, kursi ini juga dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya daur ulang dan pemanfaatan kembali barang-barang bekas,” jelasnya.

Inovasi seperti ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keberlanjutan lingkungan. Sandra bersama timnya yang terdiri dari Amanda Wijayati, Vina Habibah Camellia, Natasya Setyaning Maharani, dan Desinta Ayu Ramandani, di bawah bimbingan Rinaldy Achmad Roberth Fathoni, S.AB, MM, merasa bangga dengan pencapaian mereka.
Mereka berharap kegiatan ini dapat menginspirasi lebih banyak orang, terutama generasi muda, untuk berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan produk yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh nyata bagi pemuda lainnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan ikut berpartisipasi dalam menjaga keberlanjutan bumi. Melalui kreasi yang sederhana namun bermanfaat, kita bisa menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, seperti memanfaatkan sampah plastik menjadi barang yang bermanfaat,” kata Sandra mengakhiri.
Dengan adanya kegiatan pengabdian seperti ini, Universitas Muhammadiyah Malang menunjukkan komitmennya dalam membina mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Penggunaan ecobrick menjadi salah satu bukti bahwa masalah sampah dapat diatasi dengan kreatif dan inovatif, jika setiap individu mau berkontribusi. (dan/kun)






