Lamongan (beritajatim.com) – Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 2, Khofifah Indar Parawansa, menjaring aspirasi masyarakat pesisir utara Kabupaten Lamongan, termasuk nelayan.
Dalam kunjungannya, Khofifah blusukan ke Pasar Kliwon di Kecamatan Brondong, dilanjutkan ke Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong untuk melihat aktivitas pembingkaran ikan serta berdialog dengan 22 ketua rukun nelayan se-Pantura, di Kantor Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamomgan.
“Hari ini saya telah ke Pasar Brondong berlanjut ke Pasar Basah Kliwon, kemudian ke pelabuhan ketemu dengan para nelayan yang tergabung dalam HNSI untuk dialog. Saya ingin mendengar juga dari para nelayan,” ujar Khofifah, Kamis (26/9/2024).
Khofifah menyampaikan, produksi ikan di Jawa Timur saat ini masih tertingggi, meski sempat mengalami deflasi, yang tidak hanya terjadi di indonesia, tapi juga dialami banyak negara lain.
Kenurut Khofifah, deflasi berdampak pada aktivitas belanja yang berkurang. Termasuk terjadi di sektor perikanan ketika di awal 2024, walaupun belakangan kondisi tersebut mulai membaik.
“Di sini kan banyak juga yang dibeli oleh para eksportir. Ada kapal-kapal yang secara rutin datang kesini. Tapi kalau terjadi deflasi di beberaapa negara importir, ya tentu berpengaruh pada serapan ikan kita,” tuturnya.
Sebagai solusinya, lanjut Khofifah, harus ada investor yang memungkinkan untuk membuka industri pengolahan ikan, agar ikan hasil tangkapan nelayan bisa terserap dengan baik, khususnya ketika terjadi over supply.
“Tapi kalau ada pabrik ya bukan nunggu over supply. Namun harus ada suplai yang berkelanjutan untuk diolah di pabrik. Itu yang harus dipastikan, sehingga kalau ada investor masuk ya harus bisa memastikan kemampuan suplai untuk produksi. Misalnya sehari kebutuhan berapa ribu ton dan di sini bisa memasok berapa banyak, dengan melihat keseimbangan dukungan dari kapasitas nelayan di sini,” ujarnya.
Sementara Ketua HNSI Lamongan, Syukri, menyampaikan persoalan yang saat ini banyak dikeluhkan nelayan adalah terkait Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk nelayan.
“Selama ini yang menjadi keluhan kita yaitu soal pasokan BBM yang berkurang jadi harus ada gerakan husus untuk itu.
Sementara terkait harga ikan, kata Syukri, saat ini relatif sudah stabil jika di bandingkan 3 bulan lalu. Namun Syukri berharap ke depan ada program-program yang difokuskan untuk peningjatan kesejahteraan nelayan.
“Program – program yang berdampak pada kesejahteraan nelayan ini yang kita tunggu. Namun kita menyadari, sekarang untuk menentukan kebijakan atau membuat program kan harus terukur dan ada mekanisme atau aturan-aturan. jadi ini yang harus kita pahami. Kalau ngawur kan ya kasihan bu Khofifah,” ucap Syukri. [fak/beq]






