Jember (beritajatim.com) – Muhammad Fawait dan Djoko Susanto gembira memperoleh nomor urut 2 dalam pengundian nomor urut pasangan calon calon kepala daerah dan wakilnya, di aula Stikes Universitas dr. Soebandi, Senin (23/9/2024) malam.
Fawait dan Djoko diusung oleh tujuh partai parlemen dan tujuh partai nonparlemen. Nomor urut 2 ini sama dengan nomor urut yang diperoleh pasangan calon gubernur Khofifah Indar Parawansa dan calon wakil gubernur Emil Dardak yang sama-sama diusung Gerindra dan Koalisi Indonesia Maju.
“Alhamdulillah hari ini saya dan Pak Djoko mendapatkan anugerah luar biasa. Tanda-tanda alam itu makin kentara. Kami adalah kader Prabowo. Prabowo jadi presiden nomor urut 2, dan hari ini kami diberi kesempatan mendapat nomor urut 2,” kata Fawait, usai acara.
“Insyaallah, nomor urut 2 adalah pertanda baik, karena pada tahun 2024, yang menang rata-rata adalah nomor urut 2. Kemenangan ini akan kami persembahkan bersama Pak Djoko untuk kaum miskin, yang selama ini terbanyak kedua di Jawa Timur. Stunting terbanyak, angka kematian ibu dan bayi, angka kriminalitas masih banyak, pengangguran masih banyak, dan ketimpangan pendapatan yang makin lama makin tinggi,” kata Fawait.
Fawait-Djoko berjanji membawa cinta untuk masyarakat Jember. “Cinta UMKM, cinta petani, cinta buruh tani, cinta nelayan, cinta pelaku sektor informal, cinta kawan-kawan media,” kata Fawait.
Fawait ingin memastikan cita-cita Presiden Sukarno terwujud di Jember. “Saya adalah pengidola Bung Karno, dan saya adalah kader ideologis Bung Karno,” katanya.
Pernyataan Bung Karno soal sepuluh anak muda yang bisa mengguncang dunia kembali dikutip Fawait. “Untuk Jember cukup seorang anak muda, insyaallah didampingi tokoh senior Pak Djoko, insyaallah Jember berubah menjadi lebih baik,” katanya.
Tidak tertutup kemungkinan Fawait akan berkampanye bersama Khofifah. “Saya pikir semua mungkin, karena memang kami linier. Bu Khofifah nomor urut 2. Saya juga. Ini tanda-tanda alam, insyaallah Jember berubah lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Djoko Susanto menegaskan peran anak muda dalam kemerdekaan Indonesia. “Indonesia dimerdekakan anak muda. Di sini saya berdiri mendampingi anak muda, mengantar anak muda, menjadi pemimpin. Dan pemimpin bukan urusan membelanjakan, tapi bagaimana cara ikhtiar dan lahirnya kesejahteraan,” katanya. [wir]






