Surabaya (beritajatim.com) – Moch. Mubarok Muharam, Pakar Politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengatakan, ajakan mencoblos kotak kosong di Pilwalkot Surabaya boleh dilakukan asal tidak melancarkan fitnah.
Menurut Mubarok, hal itu sudah biasa terjadi. Dan tidak termasuk dalam gerakan kampanye atau ajakan negatif.
“Biasa saja. Karena mereka ini tidak melancarkan fitnah. Tidak juga membuat berita bohong, ataupun menyampaikan ujaran kebencian. Berarti [gerakan kelompok coblos kotak kosong] ini tidak negatif,” jelas Mubarok dikonfirmasi, Rabu (18/9).
Mubarok menilai, munculnya gerakan mencoblos kotak kosong ini dilatarbelakangi atas ketidakpuasan sekelompok masyarakat terhadap kepemimpinan petahana Eri Cahyadi-Armuji. Dan kelompok tersebut; tidak menghendaki 2 periode.
“Artinya ada pihak pihak atau pun kelompok yang menghendaki bahwa Pilkada kali ini dimenangkan kotak kosong. Sebab, kalau Pilkada dimenangkan kotak kosong, konsekuensinya Pak Eri Cahyadi dan Armuji tidak dapat mencalonkan lagi sebagai wali kota maupun wawali,” terangnya.
Mubarok menjelaskan, meski kotak kosong gagal menang [kalah] dalam Pilwalkot nanti dampaknya akan lebih signifikan. Kata dia, posisi Eri – Armuji bakal dibuat malu.
“Seandainya kotak kosong nanti kalah, tapi kotak kosong mendapatkan suara banyak. Itu sebenarnya membuat malu posisi petahana,” ujar Mubarok.
“Dan saat itu terjadi ini mempertegas arti. Bahwa ada banyak orang/pihak yang tidak menginginkan petahana tidak terpilih,” imbuhnya. [ram/ian]






