Gresik (beritajatim.com) – Aeshnina Azzarah Aqilani seorang pelajar kelas 12 SMA Muhammadiyah 10 Gresik curhat ke bupati setelah melakukan kegiatan ronda sungai di Sungai Brantas yang mengalir di Kecamatan Wriginanom.
Saat menelusuri sungai sambil berenang. Dirinya kaget banyak menemukan tumpukan sampah di tepian sungai. Pemandangan yang dilihat Aeshnina Azzarah Aqilani itu membuat dirinya kaget. Sebab, dirinya berpikir adanya sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat ada dua faktor.
Pertama, tidak adanya layanan sampah dari pemerintah desa sehingga masyarakat yang tinggal di tepi sungai membuang sampah ke sungai. Kedua, pemerintah Kabupaten Gresik membiarkan rumah-rumah liar yang berdiri di tepi sungai.
“Ini sangat ironis, saat saya berenang di sungai melewati Desa Wringinanom, Desa Lebani Waras, dan Desa Sumengko, banyak tumpukan sampah di tepian sungai,” ujarnya, Selasa (17/9/2024).
Nina panggilan akrabnya menceritakan selama berenang di sungai di beberapa lokasi air berbau amis karena banyaknya buangan sampah, atau bangkai yang menyangkut dipohon-pohon tepi sungai. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan karena dampaknya bisa mencemari lingkungan.
“Kegiatan renang yang saya lakukan ini karena Indonesia dicap sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar ketiga setelah India dan Nigeria. Penduduk Indonesia juga diketahui mengonsumsi mikroplastik terbanyak sebesar 15 gram per bulannya,” urainya.
Sebagai generasi gen Z dirinya harus menghentikan penggunaan plastik sekali pakai, dan mencegah sampah plastik agar tidak mencemari lingkungan.
“Temuan lebih dari 30 timbulan sampah di tepian sungai serta bangunan liar di atas bantaran wilayah Desa Lebani Waras, dan Sumengko harus mendapat perhatian Bupati Gresik. Saya akan menulis surat kepada Gus Yani agar menyediakan TPS 3R secara menyeluruh untuk menertibkan bangunan liar di tepi sungai,” ungkapnya. [dny/ian]






